Lailatul Qadar adalah titik temu antara wahyu dan eksistensi manusia. Di malam ini, Al-Quran diturunkan dan jutaan malaikat turun ke bumi membawa misi kesejahteraan hingga fajar menyingsing.
Lailatul Qadar menawarkan transformasi spiritual melalui pelipatgandaan amal melampaui usia manusia. Iman dan pengharapan menjadi kunci pembuka pintu ampunan atas segala noktah hitam di masa lalu.
Lailatul Qadr bukan sekadar pergantian waktu, melainkan simpul antara ketetapan takdir setahun ke depan dan kenaikan derajat manusia. Para ulama membedah makna di balik penamaan malam seribu bulan ini.
Rasulullah memberikan petunjuk spesifik mengenai fenomena alam saat Lailatul Qadar terjadi. Matahari yang meredup hingga atmosfer yang teduh menjadi indikator bagi pencari ampunan Ilahi.
Lailatul Qadar bukan sekadar ditunggu, melainkan harus dijemput dengan kesungguhan ibadah. Rasulullah memberikan teladan dengan memperketat intensitas ketaatan dan doa di pengujung Ramadhan.
Menentukan kapan jatuhnya Lailatul Qadar memerlukan ketelitian dalam membedah hadits. Antara malam ganjil sepuluh hari terakhir hingga tujuh hari sisa, nalar syariat mengajak umat terus terjaga.
Sepuluh malam terakhir bukan waktu untuk kendur. Rasulullah memberikan teladan tentang peningkatan intensitas ibadah dan isolasi spiritual demi mengejar kemuliaan Lailatul Qadar.
Allah mengistimewakan Ramadhan melalui kehadiran Lailatul Qadar, satu malam yang melampaui dimensi seribu bulan. Peristiwa ini menjadi momentum puncak bagi umat Islam untuk meraih pembersihan dosa secara total.
Lebih dari tiga juta jamaah memadati Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih serta Qiyamul Lail pada malam ke-27 Ramadan, Rabu (26/3/2025), yang diyakini sebagai Lailatul Qadar, Malam Kemuliaan.
Kisah Bani Umayyah dalam tafsir Surat Al-Qadar didasarkan pada sebuah hadis. Disebutkan bahwa pemerintahan Bani Umayyah adalah seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun. Benarkah begitu?
Para mufassir (ahli Tafsir) menyatakan, maknanya adalah amal saleh (yang dilakukan pada) Lailatul Qadar lebih baik dari amal saleh selama seribu bulan (yang dilakukan) di luar lailatul qadar.
Lailatul Qadar merupakan malam yang paling utama. Malam ini dimuliakan oleh Allah daripada malam-malam lainnya. Maka, ia merupakan malam yang penuh keberkahan.
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, Allah mensifati malam ini dengan keberkahan, karena Dia menurunkan kepada hamba-hamba-Nya berbagai berkah, kebaikan dan pahala pada malam yang mulia ini.