Ulama asal Rembang, KH Bahauddin Nur Salim (Gus Baha), menjelaskan, ada banyak keistimewaan lailatul qadar. Malam tersebut lebih mulia dari seribu bulan.
Setiap tahunnya, umat muslim di seluruh dunia memperingati Nuzulul Qur'an. Perayaan ini dilakukan untuk mengenang turunnya kitab suci Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW pada malam Lailatul Qadr di bulan Ramadan
Malam Lailatul Qadar akan didapatkan oleh umat Islam di 10 malam terakhir Ramadhan, dengan cara dengan beri'tikaf di masjid. Namun apakah bisa ibadah di rumah?
Warga Ternate memeriahkan tradisi Ela-ela menyambut malam lailatul qadar dipusatkan di Kesultanan Ternate. Kegiatan tersebut merupakan tradisi ratusan di sana.
Semangat para sahabat dalam mencari malam Lailatul Qadar dikisahkan dalam sejumlah riwayat hadits. Salah satunya hadits riwayat Imam Bukhari, dari Abu Said Al-Khudri.
Nabi Muhammad SAW beri'tikaf dan menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat sunnah, merenung, berdoa. Dalam permohonannya, Rasulullah membaca doa sapu jagad.
Terkait perbedaan waktu di setiap tempat atau negara, UBN menjelaskan malam ganjil dan genap merupakan persepsi setiap masyarakat, kapan memulai berpuasa. Misalnya di Indonesia, terjadi perbedaan awal Ramadhan.
Nabi Syam'un al-Ghazi adalah seorang Nabiyullah yang dikisahkan dalam kitab Durrotun Nasihin pada bab Lailatul Qadar. Berikut kisahnya diceritakan Rasulullah.
I'tikaf menjadi sarana umat Islam menggapai kemuliaan Lailatul Qadar. Tujuan i'tikaf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah di masjid dan meninggalkan kesibukan duniawi untuk sementara waktu.
Kewajiban zakat fitrah berdasarkan hadits shahih terhitung setelah shalat Subuh di satu Syawal sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri, namun sebagian ulama ada yang berpendapat ketika memasuki waktu maghrib pada malam 1 Syawal.
10 malam terakhir Ramadhan identik dengan ikhtiar menyambut lailatul qadar. Rasulullah mengisyaratkan malam mulia seribu bulan itu jatuh pada malam ganjil.