LANGIT7.ID-Di antara sunyinya sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terdapat satu momentum yang menjadi poros pencarian rohani bagi jutaan umat manusia. Lailatul Qadar, sebuah nama yang menggetarkan sanubari para pemburu ampunan, bukan sekadar fenomena kalender hijriah. Ia adalah sebuah misteri yang dibungkus dalam kemuliaan, sebuah malam di mana langit dan bumi seolah menyatu dalam frekuensi ketaatan yang sama. Namun, di balik kemasyhurannya, tersimpan perdebatan intelektual yang kaya di kalangan para ulama mengenai apa sebenarnya hakikat di balik penamaan malam tersebut.
Dalam ulasan mendalam Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Judai, melalui karyanya
At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu atau dalam edisi Indonesia bertajuk
Amalan dan Waktu yang Diberkahi, terdapat beberapa arus pemikiran besar mengenai etimologi dan esensi Lailatul Qadar. Penamaan ini bukan tanpa alasan, melainkan merepresentasikan fungsi administratif sekaligus spiritual malam tersebut bagi semesta dan isinya.
Pendapat pertama yang cukup dominan di kalangan pakar tafsir menyatakan bahwa kata al-Qadr merujuk pada
at-taqdiir atau penetapan. Dalam perspektif ini, Lailatul Qadar adalah malam penentuan nasib makro dan mikro bagi seluruh makhluk untuk satu tahun ke depan. Di sinilah Allah menetapkan rincian rezeki, batas usia atau ajal kematian, serta seluruh peristiwa yang akan terjadi hingga Ramadhan berikutnya.
Para malaikat, dalam suasana yang penuh khidmat, mencatat semua ketetapan tersebut sebagai cetak biru operasional semesta. Hal ini memberikan pesan interpretatif bahwa malam tersebut adalah kesempatan emas bagi seorang hamba untuk berdoa agar takdir yang diputuskan untuknya adalah takdir yang baik dan penuh keberkahan.
Arus pendapat kedua melihat al-Qadr dari sisi kemuliaan (syaraf) dan kehormatan. Bagi kelompok ini, malam tersebut menjadi agung karena ia terpilih sebagai wadah turunnya permulaan Al-Quran, kitab yang mengubah sejarah kemanusiaan.
Kemuliaan ini kemudian dipertebal dengan turunnya rombongan malaikat dalam jumlah yang tak terhitung, membawa serta keberkahan, rahmat, dan maghfirah (ampunan). Seolah-olah pada malam itu, atmosfer bumi menjadi begitu padat oleh energi ketuhanan sehingga tidak ada ruang bagi keburukan untuk menetap hingga terbit fajar. Sebagaimana disebutkan dalam referensi Pustaka Ibnu Katsir, suasana malam ini menjadi istimewa karena intensitas turunnya rahmat yang tidak ditemukan pada malam lainnya.
Sementara itu, pendapat ketiga memberikan dimensi yang lebih personal dan motivatif bagi setiap individu mukmin. Penamaan Lailatul Qadr diartikan bahwa seseorang yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah akan memperoleh al-Qadr atau derajat kemuliaan yang besar di sisi Allah.
Seseorang yang sebelumnya mungkin dipandang biasa dalam timbangan amal, dapat melonjak posisinya menjadi hamba yang mulia dan terhormat karena kesungguhannya bersujud di malam seribu bulan. Malam ini menjadi penambah kemuliaan bagi pribadi-pribadi yang sebelumnya tidak memilikinya.
Meskipun terdapat perbedaan sudut pandang, Dr. Nashir al-Judai menjelaskan bahwa keragaman ini tidaklah saling meniadakan, melainkan saling melengkapi dalam membentuk pemahaman yang utuh. Lailatul Qadar adalah malam di mana takdir dituliskan, kemuliaan diturunkan, dan derajat manusia diangkat secara simultan. Hal ini dipertegas dengan dalil al-Quran dalam surat Ad-Dukhan ayat 3-4:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍSesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.
Pencapaian derajat ini menuntut sebuah prasyarat yang tidak ringan: iman dan ihtisab (mengharap pahala). Tanpa kedua elemen ini, Lailatul Qadar hanya akan menjadi malam yang lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas pada jiwa. Sebagaimana dijelaskan dalam literatur ulama dunia lainnya seperti Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, mencari malam ini adalah latihan untuk mengasah kepekaan batin terhadap kehadiran Tuhan.
Pada akhirnya, memahami sebab penamaan Lailatul Qadr membawa kita pada satu simpulan besar: bahwa Tuhan memberikan ruang bagi manusia untuk mereformasi dirinya. Baik itu melalui doa untuk memperbaiki catatan takdir, maupun melalui sujud panjang untuk menjemput ampunan. Lailatul Qadar adalah bukti bahwa dalam Islam, waktu bukan sekadar linier, melainkan memiliki kualitas yang berbeda-beda, dan kualitas tertinggi itu diletakkan pada malam yang sunyi, di antara tangisan hamba yang rindu akan keridaan Tuhannya.
(mif)