LANGIT7.ID-Bagi kaum Muslimin, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan bukan sekadar garis finis sebuah maraton lapar dan dahaga. Di sana terdapat sebuah perburuan spiritual yang paling intens dalam setahun: pencarian Lailatul Qadar. Namun, sebuah pertanyaan klasik selalu muncul setiap tahunnya di serambi masjid hingga ruang diskusi digital: kapan sebenarnya malam itu tiba?
Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah tunggal, melainkan sebuah dialektika antara dalil yang umum dan khusus, serta sebuah hikmah besar di balik disembunyikannya tanggal pasti malam tersebut.
Berdasarkan literatur klasik dan ulasan dalam Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Fii Ramadhan karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, waktu terjadinya Lailatul Qadar tersebar dalam rentang malam-malam ganjil.
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa malam tersebut bisa terjadi pada tanggal 21, 23, 25, 27, 29, hingga akhir malam bulan Ramadhan.
Ketidakpastian ini menurut Imam Syafi’i memiliki kaitan erat dengan konteks saat Nabi menjawab pertanyaan para sahabat. Nabi sering kali menjawab sesuai dengan kondisi atau pertanyaan spesifik yang diajukan pada saat itu, sehingga jawaban beliau tampak berpindah-pindah.
Namun, jika kita merujuk pada pendapat yang dianggap paling kuat oleh para ulama dunia, koordinat waktu Lailatul Qadar mengerucut pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Hal ini bersandar pada hadits dari Aisyah Radhiyallahu anha yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan iktikaf dan berpesan kepada umatnya:
تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِCarilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.Interpretasi syariat memberikan dispensasi bagi mereka yang merasa lemah secara fisik atau memiliki keterbatasan. Syariat tidak memaksakan beban yang tidak sanggup dipikul, namun tetap memberikan arah yang jelas. Jika seseorang merasa tidak mampu mengejar di sepanjang sepuluh hari, Rasulullah menyarankan agar tidak melewatkan tujuh hari terakhir.
Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda bahwa jika seseorang lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai terluput tujuh hari yang tersisa. Ini adalah bentuk kasih sayang kenabian agar ampunan Allah tetap bisa terjangkau oleh setiap hamba sesuai kadar kemampuannya.
Menariknya, sunnah juga mencatat sebuah peristiwa sosiologis di balik hilangnya informasi tanggal pasti Lailatul Qadar. Dari Ubadah bin Shamit menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah keluar untuk mengabarkan tanggal Lailatul Qadar kepada para sahabat. Namun, di tengah jalan beliau mendapati dua orang sahabat tengah berdebat atau bertengkar. Akibat kegaduhan tersebut, pengetahuan tentang tanggal pasti itu diangkat kembali oleh Allah dari memori Nabi.
Rasulullah kemudian bersabda bahwa mungkin hal ini lebih baik bagi umat agar mereka terus berusaha mencari di malam 29, 27, dan 25. Perdebatan, dalam konteks ini, menjadi penghalang bagi turunnya ilmu dan keberkahan.
Secara metodologis, para ulama menyelaraskan hadits-hadits yang tampak beragam ini dengan kaidah umum dan khusus. Hadits yang menyebutkan sepuluh hari terakhir bersifat umum, sementara hadits yang menyebutkan malam ganjil bersifat khusus.
Dalam ilmu ushul fikih, riwayat yang khusus lebih diutamakan untuk dijadikan pedoman operasional. Maka, riwayat mengenai tujuh hari terakhir dipandang sebagai batasan bagi mereka yang berada dalam kondisi lemah, sehingga tidak ada pertentangan antar-dalil, melainkan sebuah kesatuan yang utuh.
Sebagai kesimpulan bagi setiap Muslim yang mendamba kemuliaan malam tersebut, strategi terbaik adalah memfokuskan pencarian pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir, yakni 21, 23, 25, 27, dan 29.
Namun, jika kondisi fisik tidak memungkinkan, konsentrasi harus tetap terjaga pada tiga malam ganjil terakhir: 25, 27, dan 29. Lailatul Qadar tetap menjadi rahasia yang indah, sebuah cara Tuhan agar hamba-Nya tidak hanya beribadah pada satu malam saja, melainkan terus menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan doa dan sujud yang tulus.
(mif)