Iran memasuki babak baru usai perang dengan AS dan Israel. Kepemimpinan baru, peluang diplomasi, serta masa depan Timur Tengah menjadi sorotan di tengah gencatan senjata yang masih rapuh.
Pemakaman kenegaraan Ali Khamenei di Teheran diperkirakan dihadiri perwakilan lebih dari 100 negara. Prosesi selama tujuh hari berlangsung di Iran dan Irak dengan pengamanan ketat.
Upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei akan dimulai Sabtu, 4 Juli. Diperkirakan ada lebih dari 20 juta orang bakal memadati Teheran, Iran untuk menghadiri pemakaman. Namun Mojtaba Khamenei dikabarkan tidak akan hadir di sana dengan alasan keamanan.
Kesepakatan telah secara resmi mengakhiri pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Namuan begitu, negosiasi yang lebih sulit baru saja dimulai.
Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei dijadwalkan pada awal Juli 2026 dan akan berlangsung di Irak. Disebutkan pula bahwa jenazah akan diarak mulai dari Iran hingga Irak, namun belum ada inforrmasi pasti mengenai lokasi. Bagaimana fakta sebenarnya?
Kesepakatan AS-Iran mencakup pembentukan dana investasi swasta senilai US300 miliar untuk mendukung rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran, termasuk sektor energi, logistik, manufaktur, dan infrastruktur.
Kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik disambut positif oleh banyak negara dunia. Sejumlah pemimpin internasional berharap langkah ini membuka jalan menuju perdamaian Timur Tengah, stabilitas energi global, dan keamanan Selat Hormuz.
Amerika Serikat dan Iran dikabarkan semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik selama tiga bulan. Perjanjian itu mencakup isu program nuklir Iran, pembukaan Selat Hormuz, hingga pelonggaran sanksi ekonomi.
Donald Trump mengklaim kesepakatan untuk mengakhiri konflik AS-Iran sudah dekat meski serangan militer dan ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung. Prospek perdamaian ini langsung memicu penurunan harga minyak dunia dan perhatian negara-negara besar.
Iran memperingatkan gencatan senjata dengan Amerika Serikat nyaris tak bermakna setelah gelombang serangan terbaru di Timur Tengah. Eskalasi konflik memicu serangan balasan, ancaman penutupan Selat Hormuz, serta kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah saling melancarkan serangan di Timur Tengah. Ketegangan di Selat Hormuz, serangan rudal, hingga lonjakan harga minyak dunia memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata yang disepakati sejak April 2026.
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan balasan yang menyasar fasilitas komunikasi, radar, dan reservoir air di Iran. Insiden ini memicu tuduhan kejahatan perang di tengah krisis air yang semakin parah di negara tersebut.
Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa peningkatan serangan Israel terhadap Lebanon dan permusuhan yang berkelanjutan di Gaza, berujung pada kegagalan negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.