Imam al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada mereka yang berpura-pura berkata beriman kepada Allah dan hari akhir padahal hatinya mengingkari.
Penjelasan al-Tabari merinci empat indikator pelaku kerusakan, yaitu menyelisihi perintah Allah, melampaui batas hukum-Nya, menjalankan maksiat, dan meninggalkan kewajiban syariat.
Secara kontekstual, ayat ke-11 dari Surat Al-Baqarah ini menempati posisi penting dalam rangkaian penyingkapan tabir kemunafikan setelah pembatasan sifat orang-orang bertakwa dan orang-orang kafir.
Dalam Al Baqarah ayat sembilan, orang-orang munafik berusaha menipu Allah dan orang-orang beriman dengan berpura-pura beriman, padahal tipu daya tersebut sama sekali tidak mengenai Allah.
Ayat ketujuh menjelaskan sebab mendasar di balik ketegaran orang kafir menolak kebenaran, yakni terkuncinya hati, pendengaran, dan tertutupnya penglihatan mereka dari petunjuk Allah SWT.
Ayat ini memberikan dua jaminan besar bagi siapapun yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu pijakan petunjuk yang sangat kokoh dan piala keberuntungan yang hakiki.
Ayat ini hadir sebagai pernyataan pertama yang menetapkan otoritas ilahiah, kesucian, serta fungsi utama Al-Qur'an sebelum pembaca melangkah lebih jauh menyelami ajaran dan hukum-hukum di dalamnya.
Osman Furat (47) diselamatkan dari timbunan puing-puing bangunan yang runtuh akibat gempa berskala Magnitudo 7,8 di Kahramanmara? Turki. Lantunan ayat Al-Baqarah yang ia baca membuat tim evakuasi mudah menemukan posisinya.
Makna ayat terakhir surat Al Baqarah bisa diamalkan kaum muslimin yang sedang menghadapi masalah berat. Sebab ada kandungan doa memohon bantuan Allah SWT.