Al-Azhar berawal dari sebuah masjid yang dibangun pada 970-972 M oleh Fatimiyah. Nama Al-Azhar merujuk pada nama putri Nabi Muhammad SAW, Fatimah Az-Zahra.
Dirahasiakannya waktu terjadinya kiamat mengisyaratkan bahwa manusia tidak boleh berleha-leha dalam beribadah. Tidak ada jaminan seseorang akan hidup lama karena yang tahu ajal seseorang hanyalah Allah Swt.
Menurut dia, piagam itu sangat penting dan relevan sebagai solusi terhadap peradaban dunia. Pertemuan berlangsung di Masyikhah (kantor Syaikh) di kampus Universitas Al-Azhar, belum lama ini.
Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Komjen Pol (p) Dr. H. Syafruddin, memimpin Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) berkunjung ke Majma Al-Buhuts Al-Islamiyah (Pusat Riset Keislaman Al-Azhar).
Selain Pendidikan Diniyah Formal, muadalah ijazah juga diberikan kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta dan Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Perjalanan keliling Jawa membuat Syekh Ali Thanthawi terinspirasi menulis buku berjudul Indonesia. Dalam buku tersebut, beliau mengibaratkan Indonesia sebagai surga. Ia menyebut surga di dunia bukan di Suriah ataupun Lebanon. Tapi ada di Indonesia.
Sektor pertanian bisa menjadi solusi dalam mengentaskan kemiskinan. Perlu ada peningkatan sumber kekayaan alam dipadukan dengan perkembangan teknologi.