Setelah melalui penantian yang cukup lama akhirnya Presiden Iran Masoud Pezeshkian bisa bertemu dengan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei. Pertemuan sakral itu beragendakan membahas penghidupan masyarakat dan masa depan negara.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menepis rumor bahwa ia berencana untuk mundur, menyusul rumor yang berembus kencang sejak beberapa hari lalu. Ia menyatakan akan tetap menjabat dan melanjutkan tugasnya.
Kantor Pemimpin Revolusi Islam di Iran menepis sebuah klaim yang beredar luas, mengenai dugaan reaksi Mojtaba Khamenei terhadap surat dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian terkait pengunduran dirinya.
Ketegangan antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan kantor pemimpin tertinggi kini telah mencuat ke publik. Bahkan Pezeshkian tercatat sudah 28 kali mengancam akan mengundurkan diri apabila tidak juga diizinkan bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Sejak diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, keberadaan Mojtaba Khamenei hingga kini masih dirahasiakan. Bahkan dikabarkan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian harus menemuinya secara sembunyi dan hanya diberi waktu beberapa menit saja.
Ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah tewasnya pemimpin Hamas. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya takkan diam menghadapi agresi. Ia mendesak AS dan Barat menekan Israel hentikan serangan ke Gaza. Pertemuan darurat OKI digelar membahas situasi ini. Dunia internasional khawatir konflik regional bisa meluas.