Ahlus Sunnah wal Jamaah bukanlah rival bagi Syafiiyah maupun Malikiyah. Namun, loyalitas tunggal pada mazhab sering kali menjebak umat dalam fanatisme yang justru menjauhkan dari kemurnian sunnah.
Para imam madzhab tidak pernah menuntut ketaatan buta. Sebaliknya, mereka mewariskan prinsip bahwa kebenaran mutlak hanya milik wahyu, sementara pendapat manusia tetap memiliki ruang untuk dikoreksi.
Meski berbeda dalam rincian hukum fikih, empat imam madzhab berdiri di satu barisan dalam urusan aqidah. Mereka sepakat pada prinsip tauhid salaf, menolak filsafat kalam, dan menjaga kemurnian iman.
Perbedaan mazhab fiqih sering dituding sebagai biang keretakan umat. Namun, sejarah dan metodologi ushul menunjukkan bahwa keragaman ini adalah rahmat, bukan vonis perpecahan.
Bagi makmum masbuk dalam shalat Ied, perdebatan bukan sekadar soal jumlah takbir yang tertinggal, melainkan tentang prioritas antara menjalankan sunnah tambahan atau menyimak firman Tuhan.
Kodifikasi hadits melintasi jalan terjal kontroversi dan ketelitian metodologis. Dari larangan menulis hingga lahirnya Al-Kutub al-Sittah, pencarian otentisitas sunnah adalah jantung peradaban Islam.
Allah Ta'ala memerintahkan umat Islam agar senantiasa mengerjakan ibadah salat dengan khusyuk. Karena, hanya mereka yang khusyuk-lah yang akan mendapat keberkahan dan keberuntungan dari Allah SWT.
Biografi Imam Syafi'i mengungkap kisah ulama besar pendiri Mazhab Syafi'i yang menghafal Al-Quran sejak usia 7 tahun. Perjalanan menuntut ilmunya di Makkah, Madinah, Baghdad hingga Mesir telah melahirkan warisan keilmuan Islam yang masih dipelajari jutaan muslim dunia.