Ulama memiliki jasa besar terhadap kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itu fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Mulai dari sebelum kemerdekaan hingga detik-detik proklamasi, ada peran umat Islam di sana.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia digaungkan saat umat sedang berpuasa. Tepatnya pada Jumat 17 Agustus 1945, bersamaan dengan 9 Ramadhan di kalender Hijriah.
Teks Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dibacakan di sebuah rumah No.56 di Jalan Pegangsaan Timur, Cikini, Jakarta. Namun, tak banyak yang tahu jika mewakafkan rumah untuk peristiwa penting itu adalah Syekh Faradj bin Martak.
Momen bersejarah 7 Agustus adalah dibentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Organisasi mempersiapkan berbagai hal jelang Kemerdekaan.
Setelah latihan selama dua hari di Pekanbaru, katanya, tujuh pesawat akan berangkat latihan rutin di Madiun, Jawa Timur, dan Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Ini merupakan pertama kalinya digelar setelah dua tahun pandemi Covid-19. Upacara kemerdekaan akan dihadiri tamu undangan secara fisik (luring) dalam jumlah terbatas dan secara virtual (daring).
Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT) Pengajian Ahad Pagi Bersama (PAPB) Palebon Semarang memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-76 Republik Indonesia dengan cara menyuguhkan 76 tumpeng, usai menggelar upacara pada Selasa (17/8) di sekolah.
Masyarakat di Indonesia, termasuk ummat Islamnya, hari ini memperingati Hari Kemerdekaan. Ustadz Adi Hidayat menilai ini menjadi momen mengenang jasa pahlawan.
Rais Aam Aliyah Jamiyah Ahlut Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyah (Jatman), Habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Yahya, menegaskan, generasi muda saat ini harus mencontoh perjuangan para pahlawan dalam membangun bangsa.