Pesantren di Indonesia ternyata tidak hanya jadi tempat belajar bagi masyarakat Indonesia. Namun juga jadi rujukan umat Islam dari berbagai negara. Salah satunya adalah Abdul Adzim, santri asal Kamboja yang tengah menempuh pendidikan di Ponpes Darullughah Waddawah, Pasuruan.
Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D adalah profesor di Monash University Australia. Namun siapa sangka, pria yang akrab disapa Gus Nadir ini dulunya adalah seorang santri kampung di sebuah pondok pesantren di Cirebon.
Setelah hafal Al-Qur'an di usia 8 tahun, Bisma juga hafal nadhom Alfiyah Ibnu Malik, Kitab Bulughul Maram yang berisi 1500-an hadits dan kitab Durrotun Nasihin di luar kepala pada usia 10 tahun
Kiprah santri setelah lulus dari pesantren tak hanya berputar pada bidang keagamaan saja. Santri bisa jadi apapun termasuk kepala daerah. Berikut kepala daerah yang pernah nyantri di Pesantren.
Bagi kalangan santri ataupun alumni pondok pesantren, hukuman botak gundul merupakan momen paling menakutkan sekaligus mengundang tawa saat reuni. Hukuman botak pernah dirasakan oleh Walikota Depok Mohammad Idris, berikut kisahnya.
Alumni Pondok Modern Gontor itu mencurahkan sebagian besar karir diplomatiknya di luar negeri untuk memperhatikan keselamatan WNI yang tengah merantau dan membawa warga ke Tanah Air demi keselamatan mereka.
Lewat novel, Ahmad Fuadi tak hanya menyampaikan pengalamannya saat nyantri atau kuliah di luar negeri, tapi juga menyebarluaskan kultur pesantren ke publik sehingga semakin banyak anak muda ingin nyantri. Begitulah cara Ahmad Fuadi berdakwah.