Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan, justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad SAW tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala.
Begitu kaum Muslimin memenangkan Perang Badar, beberapa kelompok di sekitar Medinah mulai saling bermain mata dan berkomplot. Mereka mulai dihasut dan dibuatkan sajak-sajak yang sifatnya membangkitkan semangat mereka.
Sebelum Rasulullah SAW diperjalankan dalam Isra dan Mikraj, Jibril membelah bagian antara tenggorokan sampai bagian ulu hati beliau. Bukan itu saja, Jibril lalu mencuci isi dada dan perut beliau dengan memakai air zamzam.
Isra Mikraj diperingati setiap tanggal 27 Rajab menurut sistem penanggalan kalender Hijriah. Isra Mikraj terjadi pada tahun 621 M, atau tahun 10/11 dari kenabian (Bi'tsah).
Kehidupan perempuan di masa Nabi perlahan-lahan sudah mengarah kepada keadilan gender. Akan tetapi setelah beliau wafat dan wilayah Islam semakin meluas, kondisi ideal yang mulai diterapkan Nabi kembali mengalami kemunduran.
Untuk menjelaskan peristiwa Isra dan Mikraj bisa menggunakan Teori Relativitas Umum. Berarti mengisyaratkan adanya ruang dengan dimensi tinggi, immaterial atau gaib di sekitar kita
Kisah Abu Bakar membenarkan Isra Mikraj menjadi momen bersejarah dalam Islam. Saat banyak orang meragukan perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Baitul Maqdis dalam semalam, Abu Bakar justru membuktikan kesetiaannya tanpa ragu, sehingga mendapat gelar ash-Shiddiq langsung dari Rasulullah.
Peristiwa Isra Miraj menyimpan kisah haru pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Musa di langit keenam. Air mata Nabi Musa mengalir bukan karena iri, melainkan sedih melihat sedikitnya umatnya yang masuk surga dibanding umat Nabi Muhammad.
Isra Mikraj Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dilukiskan dengan indah oleh sejarawan Prancis, Emile Dermenghem. Perjalanan suci bertemu para nabi dan malaikat di tujuh lapis langit ini menghasilkan perintah salat lima waktu bagi umat Islam.