LANGIT7.ID, Jakarta - Kepala Pusat Penelitian Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional (UNAS), Dr Robi Nurhadi, menilai Indonesia memiliki peluang untuk menjadi juru damai
perang Rusia-Ukraina. Itu tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai Presidensi
G20 dalam
Konferensi Tingkat Tinggi G20 digelar di Bali pada 15-16 November 2022.
Menurut Robi, ada dua alasan jika Indonesia memenuhi dua syarat untuk mengarahkan perundingan dalam menyelesaikan konflik tersebut.
Pertama, Indonesia harus memiliki kapasitas untuk melakukan proses ke arah perundingan atau memediasi ke arah sana. Kedua, menu-menu perundingan yang ditawarkan oleh Indonesia harus dilihat dalam pertemuan G20.
Baca Juga: Deklarasi G20 Minta Rusia Hentikan Invasi ke Ukraina
“Namun demikian, selalu konteks kemampuan merundingkan itu kan tetap ukurannya adalah ukuran strategi,” kata Robi dalam sebuah dalam Gelora Talks, Rabu (16/11/2022).
Dalam konteks tersebut, hal yang harus dilihat tidak hanya soal kapasitas dan narasi perundingan. Tapi juga harus melihat dari sisi eksternal, bahwa perang Rusia-Ukraina bukan lagi perang antara dua negara, tapi sudah memasuki perang polar.
Setiap kali polar terbentuk, maka akan muncul negara pengendali, pendukung pengendali, dan negara-negara yang netral saja. Kondisi itu yang menyulitkan sebuah negara yang hendak menjadi juru damai.
“Siapapun yang akan menjadi juru damai dalam proses perang ini, karena yang mau didamaikan tidak lagi satu dua negara, melainkan mendamaikan polar,” kata Robi.
Baca Juga: Jokowi Serahkan Presidensi G20 ke PM India Narendra Modi
Ukraina memang tidak menjadi pengendali dalam polar Ukraina yang melibatkan NATO dan negara-negara Barat. Namun, Rusia bisa menjadi polar dari kelompok yang sudah dia bentuk. Polar yang dibentuk itu menghadirkan negara-negara besar seperti China. Itu kemudian yang menjadi masalah.
Maka itu, kata Robi, matematika hubungan internasional perang tersebut belum menjumlahkan hasil positif. Meski Indonesia menjadi presidensi G20 namun tidak mampu berhadapan denngan besarnya penjumlahan kualitas dari perang polar itu.
Namun, Robi mengapresiasi beberapa hal yang sudah dilakukan oleh Indonesia. Di antaranya diplomasi Mangrove pada Rabu (16/11/2022) di sela-sela pertemuan KTT G20. Pertemuan itu sedikit banyak mengendurkan ketegangan.
Baca Juga: Indonesia Dinilai Mampu Hadirkan Kehangatan di Tengah Ketegangan G20
Kemudian, pertemuan bilateral Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dan Presiden China, Xi Jinping juga perlu diapresiasi. Demikian pula capaian-capaian lain dalam KTT G20 yang mengarah pada desakan perdamaian Rusia-Ukraina.
“Ini membuktikan bahwa ada kemungkinan bahwa Indonesia mampu memainkan peran lebih lanjut, G20 ini untuk mengarahkan ke hal-hal yang damai,” kata Robi.
Di sisi lain, kata dia, ketidakhadiran Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam KTT G20 serta provokasi rudal kesasar Rusia di Polandia tidak menghilangkan peluang juru damai.
“Kesimpulannya, terbuka peluang Indonesia jadi juru runding atau G20 menjadi juru runding meskipun saat ini matematika perdamaiannya itu belum menghasilkan penjumlahan yang positif,” ujar Robi.
(jqf)