LANGIT7.ID, - Surah Al-Jumuah adalah surah ke-62 dalam Al-Qur’an dan terdiri dari 11 ayat. Nama surah ini diambil dari kata ‘Al-Jumuah’ yang berarti ‘Hari Jumat’. Dalam surah ini, Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam meninggalkan pekerjaan duniawi dan berkumpul untuk melakukan shalat Jumat.
Pakar Tafsir Al-Qur'an dari Amerika Serikat, Ustadz Nouman Ali Khan, menjelaskan, Surah Al-Jumuah merupakan bagian dari rangkaian ‘musabbihat’ atau surah yang dimulai dengan tasbih, di mana Allah menegaskan kesempurnaan-Nya pada awal surah. Allah menjelaskan semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya, karena Dia raja yang Maha Suci dan Maha Perkasa.
Allah yang mengutus Nabi Muhammad SAW yang ummi di tengah-tengah manusia yang bertugas membacakan semua ayat Al-Qur’an, melakukan menyucikan jiwa, serta mengajarkan kandungan Al-Qur’an dan hikmah teknis pelaksanaannya.
Baca Juga: Surat Al Jumuah: Asbabun Nuzul dan Wajibnya Shalat Jumat
"Surah ini sangat dalam, dan sangat sangat indah. Itu mendapat beberapa kualitas unik yang sangat menarik. Misalnya, ayat pertama surah menyebutkan empat nama Allah, berlawanan dengan standar umum dua nama Allah. Maka Allah berfirman: Al-Malik, Al-Quddus, Al-Aziz, Al-Hakim,” kata Nouman, mengutip laman aboutislam, Jumat (10/2/2023).
يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ
“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS Al-Jumuah: 1)
Keempat asma Allah itu secara sempurna sangat sesuai dan sejalan dengan ayat kedua. pada ayat kedua, Allah tidak menggambarkan diri-Nya sendiri, tetapi mendeskripsikan peran Rasulullah SAW.
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Jumuah: 2).
Baca Juga: Tafsir Al Jumuah Ayat 9-11: Bersiap Menghadiri Shalat Jumat dengan Sebaiknya
Pada ayat kedua disebutkan, Allah mengutus para rasul dengan empat tugas utama. Di antaranya; para rasul menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, mentauhidkan-Nya atau menyucikan dan memuliakan-Nya, mengajarkan syariat Islam, dan membimbing umat manusia pada kebijaksanaan.
Al-Malik (Sang Maha Raja)Melalui para rasul, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Malik (Sang Maha Raja). Ada banyak tanda kebesaran Allah yang menyatakan Dia sebagai Raja segala raja.
“Seorang raja dikenal dengan tanda-tandanya, dengan simbol-simbolnya, dengan kastil-kastilnya, dengan lambang-lambang yang dikenakan oleh para prajurit, dengan tanda-tanda kerajaannya,” ujar Nouman.
Semua ciptaan Allah di alam semesta, baik yang nampak maupun tidak nampak, merupakan tanda-tanda kebesaran-Nya. Alam semesta hanya secuil tanda kerajaan Allah yang bisa disaksikan secara fisik.
Baca Juga: Tafsir Al-Jumuah Ayat 10: Perintah Bertebaran di Muka Bumi Setelah Beribadah
“Pembacaan tanda-tanda Allah, dan keagungan dan kerajaan-Nya saling berhubungan satu sama lain,” ujar Nouman.
Al-Quddus (Allah Maha Suci) Para rasul juga mendakwahkan kepada umat manusia bahwa Allah Maha Suci (al-Quddus). Pada ayat pertama Surah Al-Jumuah, manusia diperkenalkan dengan Asma Allah tersebut. Hanya Dia yang Maha Suci dan mampu menyucikan makhluk-Nya.
Al-Aziz (Allah Maha Perkasa) Dalam Surah Al-Jumuah ayat kedua, Allah Ta’ala menjelaskan tugas para rasul yakni “dia mengajarkan Kitab kepada mereka”. dalam bahasa Arab kitab berarti hukum. Artinya, para rasul mengajari umat manusia tentang hukum-hukum Allah di muka bumi.
Baca Juga: 6 Keistimewaan Jumat, Hari Raya Pekanan Umat Islam
"Dan Hukum hanya bisa datang dari otoritas, dan itu adalah nama ketiga Allah dalam ayat sebelumnya, Al-Aziz,” kata Nouman.
Al-Hakim (Allah Maha Bijaksana)Pada ayat kedua, Allah berfirman, “wal-hikmah” yaitu kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya bisa datang dari sumber kebijaksanaan. Nama keempat Allah di ayat sebelumnya adalah Al-Hakim.
“Jadi empat nama Allah, dan empat aktivitas Nabi SAW secara sempurna ditempatkan di atas satu sama lain dalam bahasa yang begitu indah,” ujar Nouman.
(jqf)