LANGIT7.ID-, Jakarta- - Nasab atau garis
keturunan jangan untuk gagah-gagahan. Nasab yang baik adalah yang dapat dijadikan sarana mengontrol diri. Pernyataan ini disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Bahaudin Nur Salim (Gus Baha).
Mengisi pengajian umum dalam rangka haul Kiai Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, belum lama ini, Gus Baha menggambarkan, "Kalau direnungkan, masak keturunan seorang wali yakni Mbah Ahmad Mutamakkin malah dugem ataupun bodoh. Bukankah itu sangat tidak pantas?"
Sebagaimana dalam tayangan Takhtimul Quran Binnadhor Tahlil Haul & Mauidhoh Hasanah Haul Mbah Ahmad Mutamakkin Kajen 1445H diakses Senin (31/7/2023), Gus Baha menyebutkan nasab itu penting, dengan mengingat nasab orang jadi menjauhi akhlak yang tidak terpuji.
Baca juga:
Dzikir dan Doa Kebangsaan, Wapres Ma'ruf Amin: Jaga Persatuan dan Saling MenguatkanNabi-nabi terdahulu, kata Gus Baha, juga menyebut atau bangga akan nasabnya, tetapi secara perilaku para nabi juga meniru atau mengikuti leluhurnya. "Yang repot sekarang itu bangga dengan nasab tapi tidak mau meniru atau mencontoh (hal-hal baik) leluhurnya," ungkapnya dikutip dari NU Online, Rabu (2/8/2023)
Sebelumnya pada kesempatan tersebut Gus Baha menegaskan betapa penting betapa penting sorang Muslim menguasai ilmu fiqih, Gus Baha bahkan mengatakan jika dirinya diberikan pilihan oleh Allah antara memliki kemampuan untuk terbang atau mampu mengajar kitab Taqrib, ia akan memilih bisa mengajar kitab Taqrib.
"Umpamanya saya bisa terbang, yang menyaksikan mungkin beberapa orang saja. Dan saat beberapa saksi tersebut menceritakan kisah tersebut ke orang lain, belum tentu dipercaya. Berbeda kalau saya mengajar Taqrib, nanti ada orang yang sujud kepada Allah, orang jadi bisa shalat secara benar, zakat dengan benar, dan itu karena jasa saya mengajarkan Taqrib," jelas Gus Baha beralasan.
Seorang jamaah warga Kajen, Muhammad Zaenuri mengatakan bahwa ia sepakat bila orang juga harus alim atau pandai. Selain itu juga perlu meneladani ajaran Mbah Ahmad Mutamakkin, karena Mbah Mutamakkin adalah pusaka Kajen.
"Yang pertama kita harus tau sejarah beliau dan ajarannya kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari," kata Zaenuri.
Ia mengatakan, saat ini tantangan zaman sudah beda, jadi harus ada pembaharuan atau reinterpretasi terkait teladan atau ajaran Mbah Ahmad Mutamakkin.

(ori)