LANGIT7.ID-, Jakarta- - Banyak orang memaknai kehidupan yang baik dengan harta berlimpah dan hidup dalam segala kemewahan. Tidak sedikit pula yang memaknai kehidupan yang baik dengan pangkat dan jabatan yang tinggi. Banyak juga yang memaknai kehidupan baik dengan popularitas yang tiada banding.
“Untuk mencapai semua itu mereka berusaha sekuat tenaga, bahkan dengan menghalalkan segala macam cara yang bertentangan dengan norma dan ajaran Islam. Setelah mencapai semua itu mereka tidak menemukan kehidupan yang baik itu,” ujar pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir (UBN), dalam tausiahnya di AQL Islamic Center, dikutip Senin (22/1/2024).
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS An-Nur: 39).
Al-Qur’an sebagai kitab hidayah dan petunjuk bagi jalan hidup manusia telah menjelaskan makna dan standar dari kehidupan yang baik, yakni hanya dapat dicapai melalui amal shaleh dan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97).
Baca juga:
Dalam Islam, Harta Diklasifikasikan Jadi 7 MacamPara ulama tafsir berbeda-beda dalam menjelaskan maksud dari al-hayah al-thayyibah (kehidupan yang baik) dalam ayat ini. Imam al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsirnya, ada beberapa pendapat mengenai makna dari kehidupan yang baik dalam ayat tersebut.
Di antaranya, pertama, rezeki yang halal. Ini perkataan Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, ‘Atha` dan al-Dhahhak. Kedua, sifat Qana’ah. Ini pendapat hasan al-Basri, Zaid bin Wahab, Wahab bin Munabbih, Ikrimah, Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib.
Ketiga, taufik Allah dalam berbuat ketaatan karena itu akan mengantarkannya kepada keridhoan Allah SWT. Ini salah satu pendapat al-Dhahhak. Keempat, Nikmat surga. Ini pendapat Mujahid, Qatadah dan Ibnu zaid. Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyimpulkan, kehidupan yang baik itu mencakup itu hal itu semua sesuai dengan hadits Nabi SAW.
Abdullah bin Amru bin al-‘Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.” (HR Muslim).
Syaikh Thahir bin ‘Asyur dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir menjelaskan, ini merupakan janji dari Allah kepada orang beriman dan beramal shaleh berupa segala bentuk kebaikan dunia. Hal paling utamanya adalah rida dengan segala ketentuan Allah SWT dan harapan akan akhir yang baik, sehat wal ‘afiat serta ‘izzah Islam dalam jiwanya.
Sedangkan Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Madarij al-salikin menjelaskan, para ulama telah menafsirkan bahwa kehidupan yang baik itu maksudnya adalah dikaruniakan sifat qana’ah, ridha dengan segala ketentuan Allah rezeki yang baik dan lain-lainnya.
“Yang benar maksudnya adalah kehidupan hati, nikmat dan kegembiraan hati karena iman kepada Allah SWT, mengenal-Nya, mencintai-Nya, bertaubat dan bertawakkal kepada-Nya. Sesungguhnya tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan hati yang seperti itu, dan tidak ada kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan hati itu kecuali nikmat surga,” tutur UBN.
Ibrahim bin Adham seorang tabi’in yang sangat zuhud mengatakan kepada orang-orang dekatnya, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui kebahagian dan kegembiraan yang kita rasakan maka mereka akan berusaha merebutnya dari kita dengan pedang.
Esensi Kehidupan Baik.
Ibnu Taimiyyah mengatakan kepada muridnya Ibnu al-Qayyim, “Apa yang ingin dilakukan musuhku terhadapku? Surga dan kebunku ada di dalam dadaku, kemanapun aku pergi, ia tidak pernah berpisah dariku. Memenjarakanku berarti khilwah (menyendiri dengan Allah) bagiku, membunuhku berarti mati syahid bagiku dan membuangku dari negeriku berarti jalan-jalan bagiku.”
Diriwayatkan dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang beriman. Jika ia dianugrahi nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya , jika ia tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Semua pendapat dan ungkapan para ulama itu menunjukkan, kehidupan yang baik yang dimaksud dalam ayat di atas adalah kehidupan jiwa dan hati orang yang beriman yang merasa tenang dengan segala ketentuan Allah SWT, lapang dada menjalani takdir-Nya dan bahagia dengan keimanannya kepada Allah SWT.
“Jadi yang dimaksud dengan kehidupan yang baik itu bukanlah nikmat kesehatan badan, tidak sakit, kaya tidak pernah miskin dan mengalami kesulitan hidup. Karena kalau yang dimaksudkan dengan semua itu maka yang kita lihat orang kafir atau orang yang mengaku Islam tapi tidak hidup sesuai dengan tuntuan Islam pun mendapatkan itu semua bahkan mungkin lebih dari orang beriman yang beramal shaleh,” ujar UBN.
Kehidupan yang baik hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman dan beramal sholeh sesuai dengan syariat Allah SWT dan tuntunan Rasul-Nya. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mau beriman dan beramal shaleh, maka Allah telah menyiapkan kehidupan yang sempit baginya.
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, kehidupan yang sempit itu adalah kehidupan yang tidak ada ketenangan di dalamnya dan tidak ada kelapangan dada. Bahkan dadanya selalu merasa sempit dan sesak meskipun secara zahir kelihatan dipenuhi kesenangan hidup, bisa memakai pakaian dan makan apa saja serta tinggal di manapun yang diinginkan.
“Selama ia belum sampai kepada keyakinan dan petunjuk Allah SWT, maka hatinya akan selalu resah, bimbang dan ragu yang merupakan bentuk kesempitan hidup,” kata UBN.
(ori)