6 Kitab Tafsir Al-Qur'an dari Nusantara
Muhajirin
Rabu, 09 Februari 2022 - 20:30 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Sejak abad ke-16, sudah muncul proses penulisan tafsir Al-Qur'an di Nusantara. Ini bisa dilihat dari naskah Tafsir al-Kahfi. Secara teknis, tafsir ini ditulis parsial berdasarkan surah tertentu, yakni Surah Al-Kahfi. Namun penulis tafsir itu tidak diketahui.
Manuskrip Tafsir Al-Kahfi dibawa dari Aceh ke Belanda oleh seorang ahli bahasa Arab dari Belanda, Erpinus (w. 1624), pada awal abad ke-17 M. Sekarang, manuskrip itu menjadi koleksi Cambridge University Library dengan katalog MS li.6.45.
Satu abad kemudian, muncul karya tafsir Tarjuman al-Mustafid yang ditulis oleh 'Abd al-Ra'uf al-Sinkili (1615-1693 M) lengkap 30 juz. Tahun penulisan tafsir ini tidak diketahui, namun Peter Riddel, setelah melihat informasi dari manuskrip tertua karya ini, mengambil kesimpulan tentatif. Karya ini ditulis sekitar tahun 1675 M.
Di penghujung abad ke-18, Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1879 M) menulis Tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na al-Qur'an al-Majid (Tafsir al-Munir) diterbitkan di Makkah pada 1880. Tafsir ini ditulis dalam bahasa Arab.
Penulisan tafsir Al-Qur'an terbanyak muncul dalam rentan masa abad ke-20. Pada awal abad ini bermunculan literatur tafsir yang ditulis ulama Tanah Air. Karya-karya tafsir itu disajikan dalam model dan tema yang beragam serta bahasan yang bermacam-macam pula.
Ada Mahmud Yunus dengan Tafsir Qur'an Karim (1938), A Hassan dengan Tafsir Al-Furqan (1956), T.M Hasbi ash-Shiddieqy menulis Tafsir Nur dan Tafsir Al-Bayan (1971), dan Hamka menulis Tafsir Al-Azhar (1967).
Lalu, lahir pula generasi yang menulis tafsir genap 30 juz dengan model penyajian runut (tahlil). Di samping itu, banyak mufasir menulis dengan model tematik. Ini merupakan keunikan tersendiri dalam sejarah penulisan tafsir Al-Qur'an di Indonesia.
Manuskrip Tafsir Al-Kahfi dibawa dari Aceh ke Belanda oleh seorang ahli bahasa Arab dari Belanda, Erpinus (w. 1624), pada awal abad ke-17 M. Sekarang, manuskrip itu menjadi koleksi Cambridge University Library dengan katalog MS li.6.45.
Satu abad kemudian, muncul karya tafsir Tarjuman al-Mustafid yang ditulis oleh 'Abd al-Ra'uf al-Sinkili (1615-1693 M) lengkap 30 juz. Tahun penulisan tafsir ini tidak diketahui, namun Peter Riddel, setelah melihat informasi dari manuskrip tertua karya ini, mengambil kesimpulan tentatif. Karya ini ditulis sekitar tahun 1675 M.
Di penghujung abad ke-18, Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1879 M) menulis Tafsir Marah Labid li Kasyfi Ma'na al-Qur'an al-Majid (Tafsir al-Munir) diterbitkan di Makkah pada 1880. Tafsir ini ditulis dalam bahasa Arab.
Penulisan tafsir Al-Qur'an terbanyak muncul dalam rentan masa abad ke-20. Pada awal abad ini bermunculan literatur tafsir yang ditulis ulama Tanah Air. Karya-karya tafsir itu disajikan dalam model dan tema yang beragam serta bahasan yang bermacam-macam pula.
Ada Mahmud Yunus dengan Tafsir Qur'an Karim (1938), A Hassan dengan Tafsir Al-Furqan (1956), T.M Hasbi ash-Shiddieqy menulis Tafsir Nur dan Tafsir Al-Bayan (1971), dan Hamka menulis Tafsir Al-Azhar (1967).
Lalu, lahir pula generasi yang menulis tafsir genap 30 juz dengan model penyajian runut (tahlil). Di samping itu, banyak mufasir menulis dengan model tematik. Ini merupakan keunikan tersendiri dalam sejarah penulisan tafsir Al-Qur'an di Indonesia.