Tantangan Umat Semakin Berat, Kaderisasi Ulama Suatu Keniscayaan
Ahmad zuhdi
Selasa, 27 Juli 2021 - 12:47 WIB
Agenda Kaderisasi Ulama Dewan Dakwah (foto: dok pribadi)
Tahun 2020 hingga 2021 selama masa pandemi, bisa dibilang sebagai 'ammul huzni' atau tahun kesedihan bagi umat Islam Indonesia. Sebab sepanjang Covid-19 mewabah di Indonesia, lebih dari 900 ulama meninggal dunia. Diakui, begitulah Allah akan mengambil ilmu dari suatu kaum dengan mewafatkan para ahli ilmu, yaitu ulama.
"Kita telah kehilangan Allahuyarham Bapak Muhammad Siddik, ulama senior yang aktif berkiprah di dunia internasional, mantan Ketua Umum Dewan Dakwah wafat akhir bulan Juni. Lalu disusul KH Amien Noer, putra ulama pejuang, pahlawan Nasional KH Noer Ali; Kiai Amien juga merupakan pembina Dewan Dakwah," kata penanggung jawab Program Kaderisasi Ulama Dewan Dakwah (PKU Dewan Dakwah), Budi Handrianto.
Tidak lama berselang, lanjut dia, wafat KH Abdul Rasyid bin Abdullah Syafii, ulama kharismatik Betawi, juga putra ulama pejuang KH Abdullah Syafii. Kiai Rasyid juga merupakan pembina Dewan Dakwah. Belum mengering air mata, Allah wafatkan ulama sekaligus pakar hadits dari Betawi Dr. KH Luthfi Fatullah.Dalam waktu dekat pimpinan pondok pesantren juga banyak yang berpulang, diantaranya KH Abdullah Syukri Zarkasyi pengasuh Ponpes Gontor, KH Nawawi Abdul Djalil pengasuh Ponpes Sidogiri, KH Zainuddin Djazuli pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri dan masih banyak ulama lain.
"Mereka semua pergi bersama ilmu dan keteladanannya. Kita semua sungguh patut berduka," tuturnya.
Dosen Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun ini menyampaikan, ulama adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya serta mempraktekkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-harinya. Ulama yang seperti ini adalah ulama yang takut hanya kepada Allah. Mengutip Al-Quran surat Fathir ayat 28, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
"Ulama yang hanya takut kepada Allah zaman sekarang ini semakin berkurang dan langka. Mereka meninggalkan umat yang selama ini dibimbingnya dari kegelapan menuju terang, dari kebodohan menjadi tercerahkan," tuturnya.
Sementara itu, tantangan yang dihadapi umat justru makin berat. Tantangan itu berasal dari multi dimensi yang mengguyur umat bagai air bah mulai dari sektor pendidikan, pemikiran, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan dan lain-lain. Tantangan berujung pada kemerosotan akhlak sehingga terlepas dari ikatan seseorang dari agamanya.
"Kita telah kehilangan Allahuyarham Bapak Muhammad Siddik, ulama senior yang aktif berkiprah di dunia internasional, mantan Ketua Umum Dewan Dakwah wafat akhir bulan Juni. Lalu disusul KH Amien Noer, putra ulama pejuang, pahlawan Nasional KH Noer Ali; Kiai Amien juga merupakan pembina Dewan Dakwah," kata penanggung jawab Program Kaderisasi Ulama Dewan Dakwah (PKU Dewan Dakwah), Budi Handrianto.
Tidak lama berselang, lanjut dia, wafat KH Abdul Rasyid bin Abdullah Syafii, ulama kharismatik Betawi, juga putra ulama pejuang KH Abdullah Syafii. Kiai Rasyid juga merupakan pembina Dewan Dakwah. Belum mengering air mata, Allah wafatkan ulama sekaligus pakar hadits dari Betawi Dr. KH Luthfi Fatullah.Dalam waktu dekat pimpinan pondok pesantren juga banyak yang berpulang, diantaranya KH Abdullah Syukri Zarkasyi pengasuh Ponpes Gontor, KH Nawawi Abdul Djalil pengasuh Ponpes Sidogiri, KH Zainuddin Djazuli pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri dan masih banyak ulama lain.
"Mereka semua pergi bersama ilmu dan keteladanannya. Kita semua sungguh patut berduka," tuturnya.
Dosen Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun ini menyampaikan, ulama adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya serta mempraktekkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-harinya. Ulama yang seperti ini adalah ulama yang takut hanya kepada Allah. Mengutip Al-Quran surat Fathir ayat 28, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
"Ulama yang hanya takut kepada Allah zaman sekarang ini semakin berkurang dan langka. Mereka meninggalkan umat yang selama ini dibimbingnya dari kegelapan menuju terang, dari kebodohan menjadi tercerahkan," tuturnya.
Sementara itu, tantangan yang dihadapi umat justru makin berat. Tantangan itu berasal dari multi dimensi yang mengguyur umat bagai air bah mulai dari sektor pendidikan, pemikiran, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan dan lain-lain. Tantangan berujung pada kemerosotan akhlak sehingga terlepas dari ikatan seseorang dari agamanya.