Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 27 Mei 2026
home sosok muslim detail berita

Mengenang KH Nawawi Abdul Jalil, Ulama Karismatik yang Zuhud dari Sidogiri

Muhajirin Jum'at, 25 Juni 2021 - 17:41 WIB
Mengenang KH Nawawi Abdul Jalil, Ulama Karismatik yang Zuhud dari Sidogiri
KH Nawawi Abdul Jalil Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri (sumber: NU.or.id)
LANGIT7.ID - Umat Islam di Indonesia, terutama di Jawa Timur berduka atas kepergian salah satu Kiai Khos (sepuh) pengasuh salah satu Pondok Pesantren tertua di Indonesia Ponpes Sidogiri, beliau adalah KH Nawawi Abdul Jalil. Kiai Nawawi menghembuskan nafas terakhirnya pada Ahad (13/6).

Bagi warga Nahdliyin, nama Kiai Nawawi sudah tidak asing lagi. Beliau dikenal sebagai ulama karismatik, salah satu Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Pengasuh Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur.

Pesantren Sidogiri terkenal menjadi model pesantren mandiri melalui pengembangan BMT Syariah yang menyebar terutama di hampir setiap kabupaten di Jawa Timur. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Nawawi selalu menekankan kepada para santrinya tentang pentingnya menjaga muru'ah ulama dan komitmen pengabdian terhadap NU.

Tak heran, website nu.or.id melansir bahwa para santri Sidogiri yang banyak mendirikan pesantren modern, selalu melabeli pesantrennya sebagai bagian dari NU yang memadukan metode pendidikan modern dan mempertahankan kajian kitab klasik.

Namun kini, nama Kiai Nawawi akan terpanpang dalam buku sejarah umat Islam, terkhusus umat Islam di Indonesia. Beliau telah berpulang ke rahmatullah. Almarhum meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Raci Kecamatan Bangil Pasuruan pukul 14.40 WIB setelah mendapatkan perawatan sebelumnya di RS Lavalette Malang selama empat hari.

Dikutip dari laman resmi Pesantren Sidogiri, sidogiri.net, Kiai Nawawi telah mengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur sejak 2005. Ia menggantikan pengasuh sebelumnya KH Abdul Alim bin KH Abdul Jalil yang wafat pada 2005.

Pesantren Sidogiri yang diasuhnya ini dikenal memiliki banyak alumni muda yang mengembangkan pemikiran yang loyal dalam pemeliharaan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah di tengah pelbagai macam aliran lain.

Santri dan alumni Pesantren Sidogiri tersebar di seluruh daerah di Jatim dan luar Jatim. Pesantren Sidogiri merupakan pesantren tua di Indonesia. Di pesantren ini banyak ulama besar pernah belajar, di antaranya Syaikhona Kholil Bangkalan.

Masih mengutip laman resmi pesantren, Sidogiri dibabat oleh seorang Sayyid dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban. Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean. Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus.

Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah. Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.

Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.

KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri Cicit Pengarang Kitab Fikih I’anatuth Thalibin

Selain dikenal sebagai ulama karismatik, Kiai Nawawi ternyata cicit Sayyid Bakri Syatho, pengarang kitab fikih legendaris, I’anatuth Thalibin.

Melansir banua.co, Kiai Nawawi adalah anak dari pasangan KH. Abdul Jalil bin Fadil dan Nyai Hanifah Nawawy. Kiai Abdul Djalil adalah cicit Sayid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, Pengarang I’anatut Thalibin. Ibu Kiai Abdul Djalil adalah Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi.

Sementara, ayah Kiai Abdul Jalil adalah Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Sayid Zainal Abidin (Bujuk Cendana/R. Senopati Pranujoyo, Kwanyar Bangkalan) bin Sayid Muhammad Khotib bin Sayid Muhammad Qosim (Sunan Drajat) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Atas dasar itu, bisa dikatakan bahwa dalam diri Kiai Nawawi Abdul Jalil Sidogiri mengalir darah para ulama dan wali besar, yaitu darah Wali Songo dan Syekh Sayyid Bakri Syatho.

Kisah unik KH Nawawi Abdul Jalil ini mengingatkan kita tentang teori Zuhud dalam dunia Tasawwuf. Imam Junaid Al Baghdadi mengatakan bahwa zuhud adalah menganggap kecil dunia dan menghapus pengaruhnya di hati. Sementara, Imam Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan seseorang dari Allah.


Tak Cinta Dunia


Kiai Nawawi juga dikenal sebagai ulama yang sangat zuhud. Hal tersebut bisa termaktub dalam sebuah kisah unik yang diabadikan dalam laman galerikitabkuning.com. Ia pernah bepergian dengan mobil pribadi, namun saat hendak pulang ia ternyata lupa jika membawa kendaraan roda empat. Kisah unik tersebut terjadi sebelum beliau menjabat pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Pada suatu ketika, Kiai Nawawi ada keperluan di Surabaya. Ia pergi ke Surabaya sendirian dan menyetir sendiri mobilnya. Setelah keperluannya selesai, beliau pulang. Tapi berbeda dengan kepergiannya ke Surabaya, pulangnya tidak lagi mengemudikan mobil, malah naik bis.

Di Surabaya, orang-orang pada ribut, kenapa mobil Kiai ditinggalkan begitu saja dan beliau pulang tidak bawa mobil. Akhirnya, seseorang memberi kabar kepada Kiai Nawawi bahwa mobil miliknya ada di Surabaya.

“Oh iya, saya lupa kalau ke Surabaya membawa mobil sendiri,” sahut Kiai Nawawi.

Kisah unik tersebut menandakan bahwa beliau tak lagi peduli dengan harta dunia. Jika ada harta ia gunakan untuk kebaikan, jika tidak punya maka beliau tak bersusah mencari. Harta bagi beliau hanya sebatas fasilitas, hak untuk menggunakan, bukan untuk memiliki. Ada atau tidaknya harta dunia, tidak ada pengaruhnya dalam hati Kiai Nawawi Abdul Jalil.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 27 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)