LANGIT7.ID, Jakarta - Tahun 2020 hingga 2021 selama masa pandemi, bisa dibilang sebagai
'ammul huzni' atau tahun kesedihan bagi umat Islam Indonesia. Sebab sepanjang Covid-19 mewabah di Indonesia, lebih dari 900 ulama meninggal dunia. Diakui, begitulah Allah akan mengambil ilmu dari suatu kaum dengan mewafatkan para ahli ilmu, yaitu ulama.
"Kita telah kehilangan Allahuyarham Bapak Muhammad Siddik, ulama senior yang aktif berkiprah di dunia internasional, mantan Ketua Umum Dewan Dakwah wafat akhir bulan Juni. Lalu disusul KH Amien Noer, putra ulama pejuang, pahlawan Nasional KH Noer Ali; Kiai Amien juga merupakan pembina Dewan Dakwah," kata penanggung jawab Program Kaderisasi Ulama Dewan Dakwah (PKU Dewan Dakwah), Budi Handrianto.
Tidak lama berselang, lanjut dia,
wafat KH Abdul Rasyid bin Abdullah Syafii, ulama kharismatik Betawi, juga putra ulama pejuang KH Abdullah Syafii. Kiai Rasyid juga merupakan pembina Dewan Dakwah. Belum mengering air mata, Allah wafatkan ulama sekaligus pakar hadits dari Betawi
Dr. KH Luthfi Fatullah. Dalam waktu dekat pimpinan pondok pesantren juga banyak yang berpulang, diantaranya KH Abdullah Syukri Zarkasyi pengasuh
Ponpes Gontor,
KH Nawawi Abdul Djalil pengasuh Ponpes Sidogiri,
KH Zainuddin Djazuli pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri dan masih banyak ulama lain.
"Mereka semua pergi bersama ilmu dan keteladanannya. Kita semua sungguh patut berduka," tuturnya.
Dosen Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun ini menyampaikan, ulama adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya serta mempraktekkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-harinya. Ulama yang seperti ini adalah ulama yang takut hanya kepada Allah. Mengutip Al-Quran surat Fathir ayat 28, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
"Ulama yang hanya takut kepada Allah zaman sekarang ini semakin berkurang dan langka. Mereka meninggalkan umat yang selama ini dibimbingnya dari kegelapan menuju terang, dari kebodohan menjadi tercerahkan," tuturnya.
Sementara itu, tantangan yang dihadapi umat justru makin berat. Tantangan itu berasal dari multi dimensi yang mengguyur umat bagai air bah mulai dari sektor pendidikan, pemikiran, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan dan lain-lain. Tantangan berujung pada kemerosotan akhlak sehingga terlepas dari ikatan seseorang dari agamanya.
"Tantangan umat ini, menurut Pak Natsir intinya berasal dari dua sisi, yaitu internal dan eksternal. Internal kita menghadapi masalah-masalah nativisme, sinkretisme, konflik internal, ketidakpercayaan hingga perpecahan. Sedangkan eksternal adalah masuknya paham-paham yang asing bagi umat dan bangsa ini. Paham sekularisme, relativisme, liberalisme, materialisme, utilitarianisme, feminisme, LGBT, sampai pluralisme agama masuk ke cara pandang kaum muslimin melalui bangku-bangku sekolah, kuliah bahkan ke pesantren," jelas Budi.
Selain itu, perkembangan dunia yang sungguh cepat dan dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19 ini, terutama di bidang sains dan teknologi membuat umat menjadi gamang. Perkembangan teknologi mutakhir memerlukan respons dari para ulama sekaligus cendekia yang paham betul masalah ini.
"Memang, tantangan yang dihadapi umat dan bangsa saat ini demikian berat, terlebih lagi ditinggal para ulama yang menjadi benteng dan panutan umat," katanya.
Maka, umat membutuhkan bimbingan. Bimbingan ilmu, bimbingan akhlak, bimbingan pemikiran, bimbingan cara pandang. Umat perlu dibimbing oleh ulama-ulama yang lurus, yang berilmu dan berakhlak mulia, serta tak bosan-bosannya menasehati umat dan penguasa yang melenceng.
"Ulama-ulama yang seperti ini tidak lahir begitu saja. Mereka tidak turun dari langit. Mereka dilahirkan oleh ulama-ulama sebelumnya. Tidak ada ulama yang otodidak. Semua ulama mempunyai 'mentor' ulama seniornya," katanya.
Selain itu, yang lebih penting adalah ulama-ulama ini lahir dari produk pendidikan, baik pendidikan terstruktur, bersistem, berjenjang maupun mulazamah (ikut, nempel, bergaul) dengan ulama. Ulama ditempa di dunia pendidikan dan di masyarakat, berinteraksi dengan masyarakat, membimbing dan menyelesaikan problem-problem masyarakat yang ada.
Sebagaimana Allah berfirman, “Kitab ini Kami wariskan kepada orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (QS Fathir: 32) Tugas ulama sebagai pengganti peran para nabi adalah tabligh atau menyampaikan (QS al-Maidah: 67), tabyin atau menjelaskan (QS an-Nahl: 44), tahkim atau memutuskan perkara/problem solving (QS al-Baqarah: 213) dan uswah hasanah atau menjadi teladan yang baik (QS al-Ahzab: 21).
"Maka ulama-ulama dengan kriteria sebagai ahli waris para nabi ini harus terus dikembangkan agar umat selalu dalam bimbingan," pungkas Budi.
(jqf)