Bijak Sikapi Perbedaan Awal Puasa dan Hari Raya Ala KH Hasyim Muzadi
Muhajirin
Selasa, 05 April 2022 - 18:47 WIB
KH Hasyim Muzadi (foto: istimewa)
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2000-2010, Almarhum KH Hasyim Muzadi, memiliki pandangan bijaksana terkait perbedaan hari puasa dan lebaran antara NU dan Muhammadiyah.
KH Hasyim Muzadi memang dikenal sebagai tokoh NU yang menjadi perekat dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Relasi NU-Muhammadiyah semasa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi sebagai Ketum PBNU sangat dekat dan harmonis. Sampai-sampai, PP Muhammadiyah menerbitkan sebuah buku khusus tentang beliau sebagai obituari.
Saat berkunjung ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor, KH Hasyim Muzadi pernah menyampaikan tausiah tentang perbedaan furu’ antara Muhammadiyah dan NU. Tausiah tersebut juga diabadikan KH Saifuddin Zuhri dalam buku “Berangkat dari Pesantren.”
Baca juga: Muhammadiyah Sebut Tak Diundang Sidang Isbat, Ini Kata Kemenag
Salah satu perbedaan yang sangat mencolok antara NU dan Muhammadiyah adalah penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebagai tanda awal puasa dan lebaran. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sementara NU memilih rukyatul hilal.
“Yang selisih Muhammadiyah dan NU kan cuma tanggalnya. Bukan hari rayanya. Shalat masih sama. Ibadah masih sama. Tanggalnya beda karena hitungnya tidak sama. Kalau NU harus kelihatan tanggalnya, dan itu perlu 2 derajat di atas ufuk. Kalau Muhammadiyah sudah ijtimak, sudah selesai urusan. Tidak perlu dilihat lagi pakai teropong,” kata KH Hasyim Asy’ari dalam peringatan 90 PM Gontor, dikutip Gontor TV, Selasa (5/4/2022).
Dalam ceramah itu, KH Hasyim Muzadi menegaskan, perbedaan di tubuh umat Islam sesuatu yang wajar. Perbedaan selalu terbuka dan ada di setiap zaman. Perbedaan itu tidak mengada-ada.
KH Hasyim Muzadi memang dikenal sebagai tokoh NU yang menjadi perekat dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Relasi NU-Muhammadiyah semasa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi sebagai Ketum PBNU sangat dekat dan harmonis. Sampai-sampai, PP Muhammadiyah menerbitkan sebuah buku khusus tentang beliau sebagai obituari.
Saat berkunjung ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor, KH Hasyim Muzadi pernah menyampaikan tausiah tentang perbedaan furu’ antara Muhammadiyah dan NU. Tausiah tersebut juga diabadikan KH Saifuddin Zuhri dalam buku “Berangkat dari Pesantren.”
Baca juga: Muhammadiyah Sebut Tak Diundang Sidang Isbat, Ini Kata Kemenag
Salah satu perbedaan yang sangat mencolok antara NU dan Muhammadiyah adalah penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebagai tanda awal puasa dan lebaran. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sementara NU memilih rukyatul hilal.
“Yang selisih Muhammadiyah dan NU kan cuma tanggalnya. Bukan hari rayanya. Shalat masih sama. Ibadah masih sama. Tanggalnya beda karena hitungnya tidak sama. Kalau NU harus kelihatan tanggalnya, dan itu perlu 2 derajat di atas ufuk. Kalau Muhammadiyah sudah ijtimak, sudah selesai urusan. Tidak perlu dilihat lagi pakai teropong,” kata KH Hasyim Asy’ari dalam peringatan 90 PM Gontor, dikutip Gontor TV, Selasa (5/4/2022).
Dalam ceramah itu, KH Hasyim Muzadi menegaskan, perbedaan di tubuh umat Islam sesuatu yang wajar. Perbedaan selalu terbuka dan ada di setiap zaman. Perbedaan itu tidak mengada-ada.