LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2000-2010, Almarhum KH Hasyim Muzadi, memiliki pandangan bijaksana terkait perbedaan hari puasa dan lebaran antara NU dan Muhammadiyah.
KH Hasyim Muzadi memang dikenal sebagai tokoh NU yang menjadi perekat dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Relasi NU-Muhammadiyah semasa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi sebagai Ketum PBNU sangat dekat dan harmonis. Sampai-sampai, PP Muhammadiyah menerbitkan sebuah buku khusus tentang beliau sebagai obituari.
Saat berkunjung ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor, KH Hasyim Muzadi pernah menyampaikan tausiah tentang perbedaan
furu’ antara Muhammadiyah dan NU. Tausiah tersebut juga diabadikan KH Saifuddin Zuhri dalam buku “Berangkat dari Pesantren.”
Baca juga: Muhammadiyah Sebut Tak Diundang Sidang Isbat, Ini Kata KemenagSalah satu perbedaan yang sangat mencolok antara NU dan Muhammadiyah adalah penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebagai tanda awal puasa dan lebaran. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sementara NU memilih rukyatul hilal.
“Yang selisih Muhammadiyah dan NU kan cuma tanggalnya. Bukan hari rayanya. Shalat masih sama. Ibadah masih sama. Tanggalnya beda karena hitungnya tidak sama. Kalau NU harus kelihatan tanggalnya, dan itu perlu 2 derajat di atas ufuk. Kalau Muhammadiyah sudah ijtimak, sudah selesai urusan. Tidak perlu dilihat lagi pakai teropong,” kata KH Hasyim Asy’ari dalam peringatan 90 PM Gontor, dikutip
Gontor TV, Selasa (5/4/2022).
Dalam ceramah itu, KH Hasyim Muzadi menegaskan, perbedaan di tubuh umat Islam sesuatu yang wajar. Perbedaan selalu terbuka dan ada di setiap zaman. Perbedaan itu tidak mengada-ada.
“Shalat dan ibadah puasanya tetap sama, cuma beda tanggal,” kata KH Hasyim Muzadi. Perbedaan hari tidak perlu dipermasalahkan. Itu lumrah terjadi, seperti perbedaan waktu Indonesia dan Amerika Serikat yang selisih satu hari.
“Orang yang berangkat dari Jepang pada Jumat sore, akan sampai di California pada Jumat pagi. Tapi, saat pulang misal dari New York ke Jakarta, berangkat Jumat pagi sampai Jakarta hari Ahad. Jadi kita kehilangan satu hari, hari Sabtu, yang kita tidak tahu ada di mana,” kata KH Hasyim Muzadi.
Atas dasar itu, dia memandang perbedaan penetapan 1 Ramadhan ala NU dan Muhammadiyah merupakan hal wajar. Meskipun Muhammadiyah dan NU berbeda di dalam furu', tetapi wawasan keumatan dan kenegaraan keduanya sama.
“KH Hasyim Asy’ari ikut mendirikan Republik Indonesia. KH Ahmad Dahlan ikut mendirikan Republik. Pahlawan Nasional ada di kedua belah pihak. Muhammadiyah dan NU tahu jerih payahnya membawa Islam di tengah kebhinekaan yang luar biasa,” ucap KH Hasyim Muzadi.
NU dan Muhammadiyah, kata KH. Hasyim Muzadi, ibarat sepasang sandal jepit. Jika ingin memakai semua, tidak ada masalah. Kalau tak ingin dipakai, pun tidak masalah. Akan tetapi, tidak bisa hanya dipakai sisi kanan saja, sisi kiri dibiarkan. Demikian pula sebaliknya. Jika begitu, pasti bakal dianggap tidak waras.
Baca juga: Kemenag Gunakan Kriteria Baru Hilal Awal Bulan HijriahDi Muhammadiyah, jarang ditemukan ulama yang mampu mendirikan pondok pesantren, meski di tubuh Muhammadiyah sudah pasti banyak orang alim. Jika berkaitan dengan klinik, rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah, tentu ada sangat banyak di Muhammadiyah.
“Orang NU disuruh bikin universitas seperti Muhammadiyah, sulit, Pak,” ucap Kh Hasyim Muzadi. Sementara warga NU ahli membangun pondok pesantren. Mereka bisa merintis TPQ, lalu berkembang menjadi Madrasah Diniyah, lantas tumbuh menjadi pondok pesantren. Namun saat diminta bikin klinik, mereka kebingungan.
“Orang Muhammadiyah disuruh ngurusin orang awam, yang sehari-hari tidak mengerti apa-apa, orang musyrik jadi muslim, tidak sabar juga,” ucapnya.
“Oleh karenanya, maka wawasan keagamaan, wawasan keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan tidak boleh dirobek oleh kepentingan apapun juga,” kata KH Hasyim Muzadi.
(jqf)