Alasan Umat Islam Wajib Puasa: Hadirkan Sifat dan Moral Baik
Mahmuda attar hussein
Senin, 11 April 2022 - 06:30 WIB
Ilustrasi isi pikiran setiap orang berbeda-beda. (Foto: Istimewa).
Umat Islam diwajibkan untuk berpuasa ketika masuk bulan Ramadhan. Namun, apa alasan sebenarnya dari kewajiban puasa ini?
Penceramah, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, dibalik kewajiban ibadah puasa Ramadhan, Allah menginginkan agar hambanya dapat meningkatkan taqwa.
Seperti dijelaskan dalam penggalan QS Al-Baqarah ayat 183, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Nilai Istilah Imsak di Tengah Masyarakat Kurang Tepat
"Ayat ini memberikan kesan yang dalam kepada kita semua akan hakikat tujuan ibadah puasa. Salah satunya meningkatkan taqwa," jelas dia dikanal YouTubenya, Adi Hidayat Official, dikutip Senin (11/4/2022).
Disebutkannya, taqwa secara singkat dapat diartikan sebagai akumulasi dari karakter moral, kumpulan-kumpulan sifat baik yang hadir dalam jiwa setiap manusia.
Dari pancaran karakter moral tersebut, kemudian mengeluarkan sifat yang dieksekusi tubuh menjadi sikap mulia. Mulai dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki.
Penceramah, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, dibalik kewajiban ibadah puasa Ramadhan, Allah menginginkan agar hambanya dapat meningkatkan taqwa.
Seperti dijelaskan dalam penggalan QS Al-Baqarah ayat 183, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Nilai Istilah Imsak di Tengah Masyarakat Kurang Tepat
"Ayat ini memberikan kesan yang dalam kepada kita semua akan hakikat tujuan ibadah puasa. Salah satunya meningkatkan taqwa," jelas dia dikanal YouTubenya, Adi Hidayat Official, dikutip Senin (11/4/2022).
Disebutkannya, taqwa secara singkat dapat diartikan sebagai akumulasi dari karakter moral, kumpulan-kumpulan sifat baik yang hadir dalam jiwa setiap manusia.
Dari pancaran karakter moral tersebut, kemudian mengeluarkan sifat yang dieksekusi tubuh menjadi sikap mulia. Mulai dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki.