home sosok muslim

KH Abdurrahim Nur: Ulama Muhammadiyah dan Persis yang Pernah Jadi Ketua GP Ansor

Kamis, 05 Agustus 2021 - 17:00 WIB
KH Abdurrahim Nur, Ulama yang aktif di lintas ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah hingga Persis (foto: istimewa)
2007 silam, saat kalender menunjuk angka 29 pada bulan Mei, sosok karismatik perekat umat menghembuskan nafas terakhir. Ia dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, namun kiprahnya di Persatuan Islam (Persis) tak bisa dihiraukan begitu saja. Begitupun saat menjadi ketua GP Ansor. Dia adalah KH Abdurrahim Nur.

KH Abdurrahim Nur meninggal dunia pada pukul 23.00 WIB. Kabar itu menjadi berita duka nasional. Pada esok harinya, Rabu (30/5/2007), ribuan orang mulai dari ulama, pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat, pimpinan ormas, pimpinan perguruan tinggi, jamaah pengajian, hingga masyarakat biasa turut mengantar kepergian almarhum ke tempat peristirahatan terakhir. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Jatirejo, Kecamatan Porong, tak jauh dari rumah tinggalnya.

Abdurrahim Nur lahir di desa Porong, Jawa Timur pada 17 September 1932. Ia lahir di lingkungan buruh lepas. Mayoritas masyarakat setempat adalah pekerja tambak, sebagaimana kedua orang tua beliau. Layaknya anak desa pada umumnya, membantu orang tua adalah hal wajar. Pagi bantu orang kerja tambak, malam ngaji Al-Qur’an.

Menurut penuturan penulis Artawijaya, Abdurrahim kecil pernah belajar Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tirmidzi, Porong, Sidoarjo. Puluhan kilometer ia tempuh untuk sampai ke tujuan. Berangkat usai shalat ashar, tiba saat malam menelan matahari. Di bawah bimbingan Kiai Marzuki, beliau mempelajari berbagai disiplin keilmuan, termasuk nahwu, sharaf, dan tahsin Al-Qur’an.

Selepas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di pondok itu, ia melanjutkan pembelajarannya ke Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang. Seperti halnya Tebuireng, pesantren tersebut pun diasuh para Kiai Nahdliyin. Mereka antara lain adalah KH Romli Tamim dan KH Dahlan Kholil.

Namun, Abdurrahim tak sempat menyelesaikan pendidikan tingkat Aliyah, karena saat itu, pada 1948, Jawa Timur tengah diamuk agresi militer kedua Belanda. Dua tahun ia tak duduk di bangku pendidikan. Ia isi kekosongan dengan berdagang. Kendati begitu, semangat menuntut ilmu tak pernah surut. Pada 1950, ia mendaftar ke Pesantren Persis Bangil bersama sebayanya di Jombang.

Persis Bangil saat itu dipimpin Allahyarham Ustadz A. Hassan. Persis sangat mempengaruhi pemikiran Abdurrahim. Ia dikenal sebagai santri cerdas. Ia salah satu santri yang bisa nyambi berdakwah. Usai jam pelajaran sekolah, ia pamit berdakwah ke beberapa daerah di Pandaan, Porong, hingga pelosok-pelosok desa. Ia berdakwah di tengah kondisi masyarakat yang masih berpegang kuat pada tradisi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
nahdlatul ulama teladan ulama intelektual muhammadiyah jejak ulama gp anshor
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya