Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home sosok muslim detail berita

KH Abdurrahim Nur: Ulama Muhammadiyah dan Persis yang Pernah Jadi Ketua GP Ansor

Muhajirin Kamis, 05 Agustus 2021 - 17:00 WIB
KH Abdurrahim Nur: Ulama Muhammadiyah dan Persis yang Pernah Jadi Ketua GP Ansor
KH Abdurrahim Nur, Ulama yang aktif di lintas ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah hingga Persis (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - 2007 silam, saat kalender menunjuk angka 29 pada bulan Mei, sosok karismatik perekat umat menghembuskan nafas terakhir. Ia dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, namun kiprahnya di Persatuan Islam (Persis) tak bisa dihiraukan begitu saja. Begitupun saat menjadi ketua GP Ansor. Dia adalah KH Abdurrahim Nur.

KH Abdurrahim Nur meninggal dunia pada pukul 23.00 WIB. Kabar itu menjadi berita duka nasional. Pada esok harinya, Rabu (30/5/2007), ribuan orang mulai dari ulama, pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat, pimpinan ormas, pimpinan perguruan tinggi, jamaah pengajian, hingga masyarakat biasa turut mengantar kepergian almarhum ke tempat peristirahatan terakhir. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Jatirejo, Kecamatan Porong, tak jauh dari rumah tinggalnya.

Abdurrahim Nur lahir di desa Porong, Jawa Timur pada 17 September 1932. Ia lahir di lingkungan buruh lepas. Mayoritas masyarakat setempat adalah pekerja tambak, sebagaimana kedua orang tua beliau. Layaknya anak desa pada umumnya, membantu orang tua adalah hal wajar. Pagi bantu orang kerja tambak, malam ngaji Al-Qur’an.

Menurut penuturan penulis Artawijaya, Abdurrahim kecil pernah belajar Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tirmidzi, Porong, Sidoarjo. Puluhan kilometer ia tempuh untuk sampai ke tujuan. Berangkat usai shalat ashar, tiba saat malam menelan matahari. Di bawah bimbingan Kiai Marzuki, beliau mempelajari berbagai disiplin keilmuan, termasuk nahwu, sharaf, dan tahsin Al-Qur’an.

Selepas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di pondok itu, ia melanjutkan pembelajarannya ke Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang. Seperti halnya Tebuireng, pesantren tersebut pun diasuh para Kiai Nahdliyin. Mereka antara lain adalah KH Romli Tamim dan KH Dahlan Kholil.

Namun, Abdurrahim tak sempat menyelesaikan pendidikan tingkat Aliyah, karena saat itu, pada 1948, Jawa Timur tengah diamuk agresi militer kedua Belanda. Dua tahun ia tak duduk di bangku pendidikan. Ia isi kekosongan dengan berdagang. Kendati begitu, semangat menuntut ilmu tak pernah surut. Pada 1950, ia mendaftar ke Pesantren Persis Bangil bersama sebayanya di Jombang.

Persis Bangil saat itu dipimpin Allahyarham Ustadz A. Hassan. Persis sangat mempengaruhi pemikiran Abdurrahim. Ia dikenal sebagai santri cerdas. Ia salah satu santri yang bisa nyambi berdakwah. Usai jam pelajaran sekolah, ia pamit berdakwah ke beberapa daerah di Pandaan, Porong, hingga pelosok-pelosok desa. Ia berdakwah di tengah kondisi masyarakat yang masih berpegang kuat pada tradisi.

Ustadz Abdul Qadir Hassan, putra Ustadz A. Hassan, sangat menyayangi Abdurrahim. Ia menganggap sosok santri ulet itu mampu mengamalkan pemikiran Persis dalam berdakwah. Saat itu, Persis dikenal sebagai harakah tajdid (Gerakan Pembaruan).

Sebenarnya, saat menjadi santri di Persis Bangil, Abdurrahim masih tercatat sebagai Ketua GP Ansor Jawa Timur. Pilihan masuk ke Persis membuat ia kerap dikucilkan di organisasi kepemudaan NU itu. Namun begitu, ia tak mengambil hati. Tujuan beliau adalah berdakwah, demikian pula saat berada di Persis.

Rihlah Intelektual ke Luar Negeri

Nama Abdurrahim Nur berangsur dikenal oleh tokoh nasional. Kala itu, salah satu tokoh Masyumi, Mohammad Natsir, yang merupakan sahabat Ustadz Abdul Qadir Hassan mendengar kecerdasan beliau. Natsir lalu memilih Abdurrahim sebagai pelajar Indonesia yang akan dikirim ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pada 1955, Abdurrahim berangkat melanjutkan studi tingkat sarjana di Mesir atas biaya Mu’tamar Al-Alam Al-Islami (MAI). Ia termasuk rombongan pertama yang dikirim Natsir ke Mesir.

Saat di negeri Piramid itu, Abdurrahim memilih fakultas Ushuluddin dan mengambil konsentrasi belajar dalam bidang tafsir hadits. Berkat kecerdasannya, ia diangkat menjadi guru tetap di sekolah Indonesia di Mesir.

Abdurrahim berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di Mesir pada 1963 dan mendapat gelar licence (Lc). Saat pulang ke Indonesia, Ustadz Abdul Qadir sudah menanti. Ia pun didapuk untuk mengajar di pesantren tersebut. Keputusan mengabdi di Persis itu diambil usai menolak secara halus tawaran Mohammad Natsir berkiprah di Jakarta.

Menjadi Tokoh yang Diperhitungkan

Lambat laun nama Abdurrahim kian dikenal. Usai berkiprah sebagai kepala sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah, Porong. Setelah itu, ia mengajarkan ilmunya di tingkat Pendidikan Tinggi. Ia diangkat menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Karir di IAIN sempat mengantarkannya menjadi dekan fakultas Ushuluddin pada 1975-1979.

Kiprah beliau di dunia pendidikan ini membuat terpilih menjadi salah seorang Ketua MUI Jawa Timur. tak hanya GP Ansor, Persis, atau pun MUI, Abdurrahim juga duduk di pucuk pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Ia memimpin Muhammadiyah selama tiga periode sejak 1987 hingga 2000.

Kepemimpinan Abdurrahim di Muhammadiyah mampu menjembatani segala perbedaan di organisasi itu. Ia sangat disegani. Nasihat-nasihatnya sering dijadikan rujukan. Sementara di kalangan NU, ia dikenal sebagai sosok yang bersahabat dan bisa menjalin kerjasama. Ia bahkan dianggap sama dengan Mohammad Natsir yang menjadi perekat umat.

Saat memasuki usia senja, semangat Abdurrahim untuk berdakwah tak pernah surut. Usia bukan penghalang. Ia bahkan mengasuh puluhan anak yatim di tempat tinggalnya. Ia sibuk mengisi di pengajian Fajar Shadiq hingga pengajian Ahad pagi yang sangat terkenal di Jawa Timur.

Abdurrahim memang dikenal moderat, tapi soal akidah ia sangat tegas. Prof A Syafiq Mughni, tokoh Muhammadiyah yang pernah menjadi murid Abdurrahim waktu di Bangil, mengakui hal itu.

“Kalau berdebat soal agama, ia (Abdurrahim) sangat argumentatif dan tegas, tapi tetap dengan gaya penyampaian yang lembut,” katanya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)