Ghazi, Alumni Pesantren Persis dengan Segudang Prestasi Internasional
Andi Muhammad
Kamis, 20 Oktober 2022 - 20:00 WIB
Ghazi, Alumni Pesantren Persis dengan Segudang Prestasi Internasional. Foto: Istimewa.
Kehadiran santri bukan hanya sekadar memelajari dan memerdalam ilmu keagamaan saja, namun juga memiliki peran penting sebagai generasi penerus bangsa yang berakhlakhul kharimah. Salah satu alumni santri Pesantren Persis Garut yang diakui kehebatannya di dunia, yakni Ghazi Abdullah Muttaqien.
Selain memelajari 10 bahasa asing, ia selesai menghafal Al-Qur'an 30 juz di usia 14 tahun dan hafal kitab hadits Bulughul Maram di usia 14 tahun. Lalu, di usia 17 tahun, Ghazi dinobatkan sebagai 'Duta Perdamaian Internasional' di IIUM Malaysia.
Saat ini, Ghazi tercatat sebagai Mahasiswa aktif jurusan Tafsir Hadits di STAIPI Garut dan penerima Beasiswa Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Sebelumnya ia dinyatakan lolos diterima studi di empat universitas luar negeri, yaitu Internasional Islamic University of Malaysia (IIUM), Ibn Khaldun University Turki, Universiti Malaya, dan Universitas Islam Madinah.
Baca Juga:Kemenag: Tema Hari Santri 2022 Terinspirasi Pesan Historis Gus Dur
Ketika berusia 19 tahun, Ghazi dilantik di MPR RI Senayan sebagai Ketua World Interfaith Forum AAYG (Forum Lintas Agama Dunia) yang beranggotakan 63 Negara Asia-Afrika. Dia juga sempat menjadi delegasi mewakili pemuda Islam se-Indonesia, diundang sebagai pembicara termuda dalam event internasional bergengsiThe 4th Annual Scientific Symposium of Indonesian Collegians in Japan(ASSIGN) Tokyo, 4-6 September 2021 di Jepang.
Ghazi juga terpilih sebagai delegasi Indonesia yang lolos seleksi dan diundang mengikuti Forum Lingkungan Hidup Sedunia pada1st World Youth Assembly2022. Gelaran tersebut diselenggarakan di Markas Besar PBB Jenewa, Swiss dan Universite de Geneve pada 20—22 April 2022. Serta tercatat sebagai salah satu inisiator piagam Internasional tentang lingkungan "World Youth Charter" di kota Jenewa Swiss.
Prestasi mentereng yang diraih Ghazi tak lain berkat peran kedua orang tuanya dan juga pola asuh yang dia dapatkan selama menjadi santri di pesantren Persis. Didikan itulah yang sampai saat ini masih melekat dalam diri Ghazi sebagai generasi penerus bangsa intelektual.
Selain memelajari 10 bahasa asing, ia selesai menghafal Al-Qur'an 30 juz di usia 14 tahun dan hafal kitab hadits Bulughul Maram di usia 14 tahun. Lalu, di usia 17 tahun, Ghazi dinobatkan sebagai 'Duta Perdamaian Internasional' di IIUM Malaysia.
Saat ini, Ghazi tercatat sebagai Mahasiswa aktif jurusan Tafsir Hadits di STAIPI Garut dan penerima Beasiswa Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Sebelumnya ia dinyatakan lolos diterima studi di empat universitas luar negeri, yaitu Internasional Islamic University of Malaysia (IIUM), Ibn Khaldun University Turki, Universiti Malaya, dan Universitas Islam Madinah.
Baca Juga:Kemenag: Tema Hari Santri 2022 Terinspirasi Pesan Historis Gus Dur
Ketika berusia 19 tahun, Ghazi dilantik di MPR RI Senayan sebagai Ketua World Interfaith Forum AAYG (Forum Lintas Agama Dunia) yang beranggotakan 63 Negara Asia-Afrika. Dia juga sempat menjadi delegasi mewakili pemuda Islam se-Indonesia, diundang sebagai pembicara termuda dalam event internasional bergengsiThe 4th Annual Scientific Symposium of Indonesian Collegians in Japan(ASSIGN) Tokyo, 4-6 September 2021 di Jepang.
Ghazi juga terpilih sebagai delegasi Indonesia yang lolos seleksi dan diundang mengikuti Forum Lingkungan Hidup Sedunia pada1st World Youth Assembly2022. Gelaran tersebut diselenggarakan di Markas Besar PBB Jenewa, Swiss dan Universite de Geneve pada 20—22 April 2022. Serta tercatat sebagai salah satu inisiator piagam Internasional tentang lingkungan "World Youth Charter" di kota Jenewa Swiss.
Prestasi mentereng yang diraih Ghazi tak lain berkat peran kedua orang tuanya dan juga pola asuh yang dia dapatkan selama menjadi santri di pesantren Persis. Didikan itulah yang sampai saat ini masih melekat dalam diri Ghazi sebagai generasi penerus bangsa intelektual.