Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home sosok muslim detail berita

Ghazi, Alumni Pesantren Persis dengan Segudang Prestasi Internasional

Andi Muhammad Kamis, 20 Oktober 2022 - 20:00 WIB
Ghazi, Alumni Pesantren Persis dengan Segudang Prestasi Internasional
Ghazi, Alumni Pesantren Persis dengan Segudang Prestasi Internasional. Foto: Istimewa.
LANGIT7.ID, Jakarta - Kehadiran santri bukan hanya sekadar memelajari dan memerdalam ilmu keagamaan saja, namun juga memiliki peran penting sebagai generasi penerus bangsa yang berakhlakhul kharimah. Salah satu alumni santri Pesantren Persis Garut yang diakui kehebatannya di dunia, yakni Ghazi Abdullah Muttaqien.

Selain memelajari 10 bahasa asing, ia selesai menghafal Al-Qur'an 30 juz di usia 14 tahun dan hafal kitab hadits Bulughul Maram di usia 14 tahun. Lalu, di usia 17 tahun, Ghazi dinobatkan sebagai 'Duta Perdamaian Internasional' di IIUM Malaysia.

Saat ini, Ghazi tercatat sebagai Mahasiswa aktif jurusan Tafsir Hadits di STAIPI Garut dan penerima Beasiswa Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Sebelumnya ia dinyatakan lolos diterima studi di empat universitas luar negeri, yaitu Internasional Islamic University of Malaysia (IIUM), Ibn Khaldun University Turki, Universiti Malaya, dan Universitas Islam Madinah.

Baca Juga: Kemenag: Tema Hari Santri 2022 Terinspirasi Pesan Historis Gus Dur

Ketika berusia 19 tahun, Ghazi dilantik di MPR RI Senayan sebagai Ketua World Interfaith Forum AAYG (Forum Lintas Agama Dunia) yang beranggotakan 63 Negara Asia-Afrika. Dia juga sempat menjadi delegasi mewakili pemuda Islam se-Indonesia, diundang sebagai pembicara termuda dalam event internasional bergengsi The 4th Annual Scientific Symposium of Indonesian Collegians in Japan (ASSIGN) Tokyo, 4-6 September 2021 di Jepang.

Ghazi juga terpilih sebagai delegasi Indonesia yang lolos seleksi dan diundang mengikuti Forum Lingkungan Hidup Sedunia pada 1st World Youth Assembly 2022. Gelaran tersebut diselenggarakan di Markas Besar PBB Jenewa, Swiss dan Universite de Geneve pada 20—22 April 2022. Serta tercatat sebagai salah satu inisiator piagam Internasional tentang lingkungan "World Youth Charter" di kota Jenewa Swiss.

Prestasi mentereng yang diraih Ghazi tak lain berkat peran kedua orang tuanya dan juga pola asuh yang dia dapatkan selama menjadi santri di pesantren Persis. Didikan itulah yang sampai saat ini masih melekat dalam diri Ghazi sebagai generasi penerus bangsa intelektual.

Ghazi mengungkapkan, kala dirinya menjadi santri di pesantren Persis, ada pola asuh tertentu yang diterapkan dan membuat Ghazi mampu menjadi seorang pemuda Indonesia dengan sejumlah prestasi yang diakui dunia internasional.

"Di sana kita mempunyai kultur kepesantrenan khas Persis untuk menguasai khazanah Islam. Jadi sebagai santri dituntut agar terbiasa dengan literatur atau kitab-kitab berbahasa Arab untuk menguasai khazanah keilmuan para ulama terdahulu," kata Ghazi saat di wawancara Langit7.id, Kamis (20/10/2022).

Baca Juga: Yuk Simak, Ini Keutamaan dan Doa Menuntut Ilmu dalam Islam

Lanjut Ghazi, sebagai kader santri dari jam'iyyah Persatuan Islam yang merupakan pembaharu Islam di Indonesia dan sudah eksis sejak 1923, mereka punya kultur tajdid, yakni gerakan pembaharuan Islam

"Sebagai kader santri dari Persis, para santri pun diarahkan agar responsif terhadap isu kekinian atau kebutuhan masyarakat kontemporer tapi di landasi dengan dasar-dasar keislaman. Jadi untuk menunjukan bahwa Islam agama yang syamil mutakamil sempurna dan universal serta baik untuk segala situasi tempat dan waktu," ujarnya.

Kemudian, para santri lebih memerbanyak ke diskusi materi dan buku literatur. Selain itu, para santri turut diajarkan bagaimana cara berdebat yang baik sesuai dengan kultur di Persis. Menurut dia, debat merupakan suatu hal yang paling seru kala dia masih menimba ilmu di pesantren tersebut.

"Ya debat kita sudah diajarkan karena dari sejak awal Persis berkembang tahun 1923 terkenal seperti Ahmad Hasan debat dengan Soekarno, lalu Mohammad Natsir yang tentu orang-orang hebat semua yang di kemudian hari Indonesia merdeka jadi tokoh-tokoh bangsa," jelas pemuda asli Garut ini.

Adapula kultur khas di pesantren Persis, yakni literasi membaca dan menulis. Menurut dia, kultur-kultur itulah yang menjadi bekal dirinya di masa depan. Bahkan sampai meraih sejumlah prestasi hingga diundang menjadi delegasi pemuda asal Indonesia di berbagai event internasional bergengsi.

Ghazi menceritakan, pada usia ke-17 tahun dirinya berhasil membuat karya tulis berupa makalah untuk pertama kalinya. Yakni mengenai diskusi khusus pemikiran Islam tentang pembahasan diskursus Islamisasi Ilmu dari Prof Naquib Al Attas.

Baca Juga: Etika Pergaulan Antara Santri dengan Ulama, Ini Kata Buya Yahya

Makalah tersebut rampung selama tiga bulan dengan jumlah 340 halaman. Hebatnya, karya tulis terabut bahkan dipresentasikan di Malaysia pada kongres muslim dunia di Internasional Islamic University of Malaysia, Kuala Lumpur. Kongres tersebut merupakan sebuah forum internasional untuk intelektual muslim dunia.

"Jadi waktu itu saya termasuk delegasi termuda di internasional," kata Ghazi.

Ghazi pun berpesan kepada seluruh santri di Indonesia yang merupakan unsur penting dan aset berharga bangsa Indonesia. Para santri harus sadar dengan berbagai macam tantangan pada era globalisasi ini, terutama hegemoni peradaban Barat.

"Bukan berarti anti Barat, tetapi ada beberapa nilai dari peradaban Barat yang perlu kita saring jangan sampai memakan secara mentah-mentah apa yang datang dari Barat," ujar Ghazi.

Tak sampai di situ, Ghazi juga memberi closing statement kepada seluruh santri di Indonesia yang menggetarkan jiwa dan raga dengan mengutip perkataan dari Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher.

'Watch your thoughts, for they will become your actions. Watch your actions, for they'll become your habits. Watch your habits for they will become your character. Watch your character, for it will make your destiny.'

"Jadi untuk generasi muda Indonesia jika ingin masa depan Indonesia cerah, negara maju, berdaulat, dan disegani dunia terutama 2045 nanti. Mulai sekarang kita rubah yuk sama-sama pola pikir untuk lebih positif," katanya.

"Pola pikir akan berubah menjadi kata-kata, kata-kata akan menjadi tindakan, tindakan akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan menjadi karakter. Sedangkan karakter kitalah yang akan menentukan bagaimana nanti masa depan kita, terutama bangsa kita Indonesia," imbuhnya.

Baca Juga: Kubah Jakarta Islamic Centre Kebakaran

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)