LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al Bahjah, Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya menjelaskan beberapa etika belajar, baik santri kepada ulama ataupun ulama kepada santri.
Menurut dia, etika pertama ialah adanya mahabbah atau rasa cinta di hati dan adab dari santri terhadap ulama. "Harus ada mahabbah dan adab kepada guru, jadi kepada guru harus punya mahabbah dan adab," kata Buya Yahya seperti dikutip Langit7 dalam tayangan akun YouTube Al-Bahjah TV, Rabu (19/10/2022).
Lebih lanjut, Buya Yahya menyebut hal yang sama juga harus dilakukan dari guru kepada murid sehingga bukan hanya murid mempunya adab kepada guru. "Dan guru juga harus punya mahabbah dan adab kepada murid, jadi bukan hanya tok murid punya adab kepada guru," tuturnya.
Buya Yahya juga menceritakan, bagaimana Imam Ahmad memerlakukan para santrinya denga hormat, termasuk saat Imam Ahmad tengah menegur para santrinya dengan kehalusan.
"Imam Ahmad itu kalau sama muridnya hormat banget, kalau menegur itu pelan-pelan menegurnya dengan halus. Gurunya beradab sama murid, maka muridnya harus beradab kepada guru," ujar Buya Yahya.
Menurut dia, jika seseorang menjadi santri maka apa yang harus ada pada dirinya agar ilmu mudah di dapat, tentu dengan adanya mahabbah atau rasa cinta di hatinya kepada sang guru yang ditandai dengan mendo'akan guru.
"Kemudian yang kedua tanda cinta. Makanya kalau kita mempunyai guru siapapun yang mengajar kita walaupun satu ayat biasakan untuk mendo'akan," ujarnya.
Buya Yahya mengatakan, kalau ada ada seorang murid yang mendo'akan gurunya, maka itu adalah kepentingan seorang murid bukan kepentingan seorang guru.
Baca Juga: Anak Telanjur Membangkang, Begini Cara Didik dalam Islam"Sebab seorang guru dia sudah dido'akan semua penghuni langit dan laut. Semua mendo'akan seorang guru maka kalau kita mendoakan seorang guru keberuntungan bagi kita," tuturnya.
Ketiga, jangan membicarakan kejelekan seorang guru. Menurut Buya Yahya kalau santri melihat kejelekan seorang guru, anggap saja itu adalah musibah atau bencana besar bagi seorang murid.
"Tantangan terberat seorang murid adalah saat dia dibukakan oleh Allah aib gurunya, naudzubillah hilang cinta saat itu. Maka orang-orang terdahulu jika dibukakan aib gurunya, maka dia menangis dan mengoreksi kesalahan dan kekotoran hatinya langsung," jelas Buya Yahya.
Buya Yahya juga mengatakan, seseorang yang melihat gurunya melakukan kesalahan, bukan menyalahkan gurunya dia langsung mengatakan bahwa dia menangis karena takut rasa cinta atas gurunya berkurang.
"Sehingga di saat mereka mau belajar lihat Syekh Hasyim Asy'ari dalam kitab Adabul 'Alim Wal Muta'alim menyebutkan, dahulu santri atau sebelum jadi ulama kalau ingin belajar mereka bersedekah," ujarnya.
Selanjutnya, setelah bersedekah mereka berdo'a agar sedekah yang diberikan dapat menutup kesalahan guru, sehingga kesalahan tersebut tidak terlihat oleh mereka.
"Makanya kalau ada murid yang mencari kesalahan guru, dijamin dia tidak akan mendapat ilmu dan ingat kalau kita mencari guru yang tidak pernah bersalah sampai mati, kita tidak akan punya guru," ujarnya.
Kendati demikian, menurutnya jika bernasib baik seorang murid, maka ketika dia ditutup kekurangan oleh Allah Ta'ala agar rasa cinta terhadap guru semakin bertambah.
"Kalau murid sudah mempunyai bekal cinta, jangan melihat kesalahan guru, bicarakanlah kebaikan guru. Kalau kita sering membicarakan kebaikan-kebaikan guru maka ketahuilah teman-teman kita pun akan ikut senang akhirnya dia ikut untuk belajar," tutur Buya Yahya.
(zhd)