Santri Harus Bermimpi Besar, Ini Tips Sukses Setelah Lulus Pesantren
Muhajirin
Sabtu, 22 Oktober 2022 - 07:20 WIB
Para Santri saat upacara peringatan Hari Santri (Sumber: Kemenag DIY)
LANGIT7.ID, Jakarta- Penulis Buku Man Jadda Wajada, Akbar Zainuddin, mengatakan, seorang santri harus visioner dengan berani bermimpimeski masih belajar di pondok pesantren. Sebab impian merupakan bayangan tentang masa depan.
Akbar menilai impian sangat penting karena akan mengarahkan seorang santri menentukan langkah ke depan. Jika tidak punya impian, maka seorang santri bisa saja hanya jalan di tempat. Tidak ke mana-mana tanpa arah tujuan jelas.
“Kita tidak akan pernah melaju, berkembang, karena impian yang akan terus membuat kita semangat,” kata Akbar di kanal Youtube-nya, Sabtu (21/10/2022).
Baca Juga:Kisah dr Iqbal Musyaffa: Sempat Tinggal Kelas di Gontor, Kini Jadi Dokter
Selain itu, impian juga menjadi rel agar seorang santri bisa fokus dan menentukan prioritas hidup. Hidup tidak boleh menjadi apa saja dan siapa saja. Harus Ditentukan mau ke mana dan menjadi apa, karena kemampuan dan waktu manusia itu terbatas.
Akbar menuturkan, ada tiga kriteria impian yang baik yakni KTT (khusus, terukur, dan tanggal).Pertama, khusus. Impian tidak boleh terlalu abstrak. Contoh abstrak itu seperti ingin sukses, ingin bahagia, dan membahagiakan orang tua. Itu merupakan hasil dari impian-impian yang tercapai.
“Impian itu harus khusus dan jelas. Misal jadi pengusaha di bidang fesyen, pejabat, hingga penulis. Itu khusus,” Katanya.
Akbar menilai impian sangat penting karena akan mengarahkan seorang santri menentukan langkah ke depan. Jika tidak punya impian, maka seorang santri bisa saja hanya jalan di tempat. Tidak ke mana-mana tanpa arah tujuan jelas.
“Kita tidak akan pernah melaju, berkembang, karena impian yang akan terus membuat kita semangat,” kata Akbar di kanal Youtube-nya, Sabtu (21/10/2022).
Baca Juga:Kisah dr Iqbal Musyaffa: Sempat Tinggal Kelas di Gontor, Kini Jadi Dokter
Selain itu, impian juga menjadi rel agar seorang santri bisa fokus dan menentukan prioritas hidup. Hidup tidak boleh menjadi apa saja dan siapa saja. Harus Ditentukan mau ke mana dan menjadi apa, karena kemampuan dan waktu manusia itu terbatas.
Akbar menuturkan, ada tiga kriteria impian yang baik yakni KTT (khusus, terukur, dan tanggal).Pertama, khusus. Impian tidak boleh terlalu abstrak. Contoh abstrak itu seperti ingin sukses, ingin bahagia, dan membahagiakan orang tua. Itu merupakan hasil dari impian-impian yang tercapai.
“Impian itu harus khusus dan jelas. Misal jadi pengusaha di bidang fesyen, pejabat, hingga penulis. Itu khusus,” Katanya.