LANGIT7.ID, Jakarta - LANGIT7.ID, Jakarta- Penulis Buku Man Jadda Wajada, Akbar Zainuddin, mengatakan, seorang
santri harus visioner dengan berani bermimpi meski masih belajar di
pondok pesantren. Sebab impian merupakan bayangan tentang masa depan.
Akbar menilai impian sangat penting karena akan mengarahkan seorang santri menentukan langkah ke depan. Jika tidak punya impian, maka seorang santri bisa saja hanya jalan di tempat. Tidak ke mana-mana tanpa arah tujuan jelas.
“Kita tidak akan pernah melaju, berkembang, karena impian yang akan terus membuat kita semangat,” kata Akbar di kanal Youtube-nya, Sabtu (21/10/2022).
Baca Juga: Kisah dr Iqbal Musyaffa: Sempat Tinggal Kelas di Gontor, Kini Jadi Dokter
Selain itu, impian juga menjadi rel agar seorang santri bisa fokus dan menentukan prioritas hidup. Hidup tidak boleh menjadi apa saja dan siapa saja. Harus Ditentukan mau ke mana dan menjadi apa, karena kemampuan dan waktu manusia itu terbatas.
Akbar menuturkan, ada tiga kriteria impian yang baik yakni KTT (khusus, terukur, dan tanggal). Pertama, khusus. Impian tidak boleh terlalu abstrak. Contoh abstrak itu seperti ingin sukses, ingin bahagia, dan membahagiakan orang tua. Itu merupakan hasil dari impian-impian yang tercapai.
“Impian itu harus khusus dan jelas. Misal jadi pengusaha di bidang fesyen, pejabat, hingga penulis. Itu khusus,” Katanya.
Baca Juga: Pilot Pesawat Kepresidenan RI Ternyata Seorang Santri
Kedua, terukur. Terukur berarti ada angka. Jika punya impian maka tentukan angka di balik impian itu. Misal ingin punya rumah, maka tentukan dengan jelas di daerah mana, berapa biaya yang dibutuhkan, hingga arsitekturnya.
Ketiga, tanggal. Tanggal berkaitan dengan waktu. Target impian harus ditentukan kapan tercapai. Keinginan memiliki rumah harus ditetapkan kapan target diwujudkan.
“Sehingga, kita mudah melihat impian itu sudah tercapai atau belum,” ungkap Akbar.
Impian yang Harus DitulisAkbar menyebut enam impian yang harus ditulis. Semua itu harus jelas, terukur, dan ada target waktu, sehingga tidak menjadi pemanis imajinasi saja.
Pertama, profesi. Seorang santri harus menuliskan 5-10 tahun ke depan mau berprofesi apa. Bisa menjadi pengusaha, pejabat, atau penulis.
Baca Juga: Mohamad Nasir: Santri Jadi Profesor, Rektor hingga Menteri
Kedua, lulus atau predikat. Santri harus menulis lulus dan predikat saat Ujian akhir nanti. Harus ditargetkan punya nilai berapa. Tidak boleh bercita-cita seadanya saja. Target jelas akan mendorong motivasi belajar dan terus berlatih.
Ketiga, kuliah di mana. Ini harus ditulis, setelah lulus dari pesantren ingin kuliah di perguruan tinggi apa dan di mana. Kalau bisa disesuaikan dengan jurusan yang menjadi impian. Misal, ingin menjadi pejabat, maka kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Politik.
Keempat, ingin pergi ke mana. Tidak perlu takut menulis keinginan hendak pergi ke mana. Bisa menulis ingin keliling Indonesia atau keliling dunia. Tulis secara jelas negara tujuan disertai keterangan khusus dan target jelas.
Baca Juga: Pendidikan di Gontor Putri Tempa Elizabeth Diana Dewi Jadi Diplomat
Kelima, ingin punya apa. Tidak perlu takut menulis ingin memiliki apa, seperti impian punya kendaraan pribadi atau rumah pribadi. Tuliskan apa yang diinginkan.
“Sehingga benar-benar paham langkah yang harus dituju. Ada sesuatu yang ingin diraih sehingga semangat tinggi,” ucap Akbar.
Keenam, kapan mau hafal Al-Qur’an. Ini sangat penting bagi seorang santri. Berapa tahun lagi hafal 30 juz. Paling tidak hafal juz 30 dan surah-surah penting seperti Al-Mulk, As-Sajadah, Al-Kahfi, dan Yasin.
(jqf)