6 Makna Santri Menurut Prof Oman Fathurahman
Hasanah syakim
Ahad, 23 Oktober 2022 - 08:02 WIB
6 Makna Santri Menurut Prof Oman Fathurahman. Foto: Hasanah Syakim.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman menyampaikan santri dapat dimaknai bermacam-macam. Akan tetapi baginya yang paling penting bahwa santri ialah sesorang pembelajar atau yang terus mencari ilmu dan kebenaran.
"Dan kalau dalam konteks nusantara sesungguhnya kata santri, itu tidak tidak hanya melekat pada muslim. Sebetulnya di awalnya dahulu santri itu melekat pada seorang yang belajar di padepokan bahkan di tradisi agama lain pun ada," katanya saat di wawancara Langit7 di kediamannya baru-baru ini.
Lebih lanjut, Prof Oman mengatakan santri sebagai seorang pembelajar yang mempelajari nila-nilai serta mencoba menginternalisasi nilai-nilai tertentu supaya menjadi kepribadian dirinya.
Baca Juga:Zamzam, Lulusan Pesantren Persis Garut jadi Senior IT di Jerman
"Kalau saya menyebut, jati diri santri S nya itu sederhana berjiwa mandiri, jadi sederhana berjiwa mandiri santri itu kalau di pesantren itu kan penuh dengan kesederhanaan, tidak bermewah-mewah," ujarnya.
Menurut dia, tidak bermewah-mewah bukan berarti santri tidak boleh punya baju bagus, tapi ada cara bagaimana memahami baju yang bagusnya supaya tidak menjadi kotor, tidak berlebih-lebihan sehingga dia berjiwa mandiri.
"Karena kalau santri itu kan sebetulnya melekat pada pembelajaran yang tinggal di asrama, dan boarding school sampai di pesantren ya sehingga mereka harus belajar melakukan segala hal itu sendiri," ujar Prof Oman.
"Dan kalau dalam konteks nusantara sesungguhnya kata santri, itu tidak tidak hanya melekat pada muslim. Sebetulnya di awalnya dahulu santri itu melekat pada seorang yang belajar di padepokan bahkan di tradisi agama lain pun ada," katanya saat di wawancara Langit7 di kediamannya baru-baru ini.
Lebih lanjut, Prof Oman mengatakan santri sebagai seorang pembelajar yang mempelajari nila-nilai serta mencoba menginternalisasi nilai-nilai tertentu supaya menjadi kepribadian dirinya.
Baca Juga:Zamzam, Lulusan Pesantren Persis Garut jadi Senior IT di Jerman
"Kalau saya menyebut, jati diri santri S nya itu sederhana berjiwa mandiri, jadi sederhana berjiwa mandiri santri itu kalau di pesantren itu kan penuh dengan kesederhanaan, tidak bermewah-mewah," ujarnya.
Menurut dia, tidak bermewah-mewah bukan berarti santri tidak boleh punya baju bagus, tapi ada cara bagaimana memahami baju yang bagusnya supaya tidak menjadi kotor, tidak berlebih-lebihan sehingga dia berjiwa mandiri.
"Karena kalau santri itu kan sebetulnya melekat pada pembelajaran yang tinggal di asrama, dan boarding school sampai di pesantren ya sehingga mereka harus belajar melakukan segala hal itu sendiri," ujar Prof Oman.