Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

6 Makna Santri Menurut Prof Oman Fathurahman

hasanah syakim Ahad, 23 Oktober 2022 - 08:02 WIB
6 Makna Santri Menurut Prof Oman Fathurahman
6 Makna Santri Menurut Prof Oman Fathurahman. Foto: Hasanah Syakim.
LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman menyampaikan santri dapat dimaknai bermacam-macam. Akan tetapi baginya yang paling penting bahwa santri ialah sesorang pembelajar atau yang terus mencari ilmu dan kebenaran.

"Dan kalau dalam konteks nusantara sesungguhnya kata santri, itu tidak tidak hanya melekat pada muslim. Sebetulnya di awalnya dahulu santri itu melekat pada seorang yang belajar di padepokan bahkan di tradisi agama lain pun ada," katanya saat di wawancara Langit7 di kediamannya baru-baru ini.

Lebih lanjut, Prof Oman mengatakan santri sebagai seorang pembelajar yang mempelajari nila-nilai serta mencoba menginternalisasi nilai-nilai tertentu supaya menjadi kepribadian dirinya.

Baca Juga: Zamzam, Lulusan Pesantren Persis Garut jadi Senior IT di Jerman

"Kalau saya menyebut, jati diri santri S nya itu sederhana berjiwa mandiri, jadi sederhana berjiwa mandiri santri itu kalau di pesantren itu kan penuh dengan kesederhanaan, tidak bermewah-mewah," ujarnya.

Menurut dia, tidak bermewah-mewah bukan berarti santri tidak boleh punya baju bagus, tapi ada cara bagaimana memahami baju yang bagusnya supaya tidak menjadi kotor, tidak berlebih-lebihan sehingga dia berjiwa mandiri.

"Karena kalau santri itu kan sebetulnya melekat pada pembelajaran yang tinggal di asrama, dan boarding school sampai di pesantren ya sehingga mereka harus belajar melakukan segala hal itu sendiri," ujar Prof Oman.

Selanjutnya, kata Pengasuh Pondok Pesantren Al Hamidiyah Depok ini menyebut momen Hari Santri Nasional ini menjadi salah satu pencapaian, di mana negara memberikan pengakun terhadap eksistensi anak bangsa yang mempunyai komitmen keindonesiaan dan kebangsaan.

"Komitmen keindonesiaan dan kebangsaan berdasarkan pada nilai-nilai yang dianutnya, serta tentu nilai keagamaan dan potensi ilai-nilai keislamanan," tuturnya.

Kedua, dia memaknai santri dengan A nya itu khususnya dalam konteks saat ini, yaitu anti kekerasan. Menurut dia, maraknya kasus kekerasan ini karena Indonesia adalah bangsa yang beragam, baik karakter, etnis, budaya, hingga agama begitu beragam.

"Sehingga itu menjadi perbedaan yang terkadang menimbulkan gesekan, kemudian jika gesekan itu terlalu ekstrim maka terkadang menimbulkan tindakan kekerasan, baik verbal, fisik, hingga kekerasan seksual. Sehingga santri harus punya komitmen dan pemahaman anti kekerasan," ujarnya.

Baca Juga: Menag: Santri Penjaga Martabat Bangsa dan Kemanusiaan

Ketiga, N dimaknai dengan nalar dan rasa saling melengkapi. Menurut Prof Oman, santri haruslah menggunakan akalnya untuk menjadi seorang yang cerdas, akan tetapi juga menggunakan rasa ketika berhadapan dengan orang lain.

"Bahwa menyikapi sesuatu harus bisa bersikap bijak serta penuh dengan kasih sayang. Karena kalau di pesantren itu kan santri itu diajarkan oleh para ulama untuk mengayomi saudara seagama dan yang berbeda agama," katanya.

Selanjutnya, keempat T dimaknai dengan tangguh dan percaya diri. Prof Oman menjelaskan dahulu santri di Indonesia terutama santri di pesantren tradisonal kerap dianggap kampungan, sarungan. Akan tetapi, setelah memahami sejarahnya, santri punya semangat kemerdekaan.

"Di Hari Santri juga kan ada resolusi jihad yang digaungkan oleh Kiai Haji Hasyim Asy'ari untuk menggelorakan pentingnya perjuangan memertahankan kemerdekaan. Dan senjata pun tidak ada, hanya do'a dan semangat tapi tetap tangguh," katanya.

Sehingga menurut dia, dalam konteks saat ini anak-anak muda atau era milenial menghadapi hoaks dan sebagainya. Maka, santri haruslah tangguh dan percaya diri bahwa dia punya kekuatan.

"Ada santrinisasi, dalam konteks Indonesia maksud dari santrinisasi sekarang Itu, semua aspek kehidupan di Indonesia diwarnai oleh nilai-nilai religiusitas dari santrinya," ujarnya.

Baca Juga: Kisah Pilu Orang Tua Kehilangan Bayi 7 Bulan karena Gagal Ginjal Akut

"Jadi mungkin dalam konteks ini khususnya para pelajar muslim di pesantren, atau meskipun mereka yang tidak mengerti pesantren tapi menganut nilai-nilai ini," tutur Prof Oman.

Kelima, R kemudian dimaknai dengan rajin belajar dan mengaji. Prof Oman menuturkan, anak-anak harus ditanamkan dan kemudian jika berbicara tentang agama harus argumentatif atau berdasarkan pada sumber-sumber.

"Sekarang itu generasi milenial sukanya yang instan, sehingga kalau berbicara agama mungkin banyak yang mengandalkan pengetahuan di google atau yang instan barangkali di whatsapp saja lalu merasa paling tahu," ujarnya.

Melihat hal tersebut, dia menekankan santri didik untuk rajin belajar, mengaji, membaca tidak hanya ayat-ayat Al-Qur'an tetapi juga ayat-ayat kauniyah alam semesta.

"Dan yang terakhir saya suka memaknai santri I nya itu, ikut aturan disiplin diri. Ini sebetulnya jati diri seseorang sebagai sebuah bangsa bukan hanya Indonesia tapi bangsa Jepang pun disiplinnya terkenal sangat bagus, kuat dan lainnya," ujarnya.

Prof Oman menambahkan bahwa bangsa Indonesia juga harus maju dengan mencetak generasi muda yang mempunyai perilaku disiplin, jati diri dalam aturan selalu dipatuhi terutama jika aturan tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama.

Baca Juga: 9 Ciri Orang Tidak Dewasa Secara Emosional, Salah Satunya Agresif

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)