Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 31 Mei 2026
home global news detail berita

Kisah Pilu Orang Tua Kehilangan Bayi 7 Bulan karena Gagal Ginjal Akut

Muhajirin Jum'at, 21 Oktober 2022 - 13:51 WIB
Kisah Pilu Orang Tua Kehilangan Bayi 7 Bulan karena Gagal Ginjal Akut
Yusuf Maulana (44) menggendong putrinya (Dok Pribadi)
LANGIT7.ID, Yogyakarta - Yusuf Maulana (44), mendapati putrinya Emira Tatiana Denisova yang baru berusia 7 bulan, terserang penyakit misterius yang disebut sebagai Acute Kidney Injury atau Gangguan Ginjal Akut. Berawal dari demam biasa, berlanjut dengan kejang esoknya.

“Tapi intensitas kejangnya tidak panjang, sering, tapi tidak panjang. Sering membelalak mata kosong, setelahnya biasa lagi, tapi tidak ceria, tidak kelihatan ceria,” tutur Yusuf Maulana kepada LANGIT7, Rabu (19/10/2022).

Gelagat bayi Emira yang sering menatap kosong diiringi berkurangnya urin, disangka Yusuf merupakan dehidrasi akut. Sebab sejak beberapa hari sebelumnya tidak mendapatkan asupan air susu ibu (ASI) seperti biasanya. Akhirnya dia diberi susu formula dan makanan pendamping guna menunjang nutrisinya pada Senin (19/9/2022) sore.

Baca Juga: RSCM: Angka Kematian Anak akibat Gangguan Ginjal Akut 63 Persen

Emira sempat diare karena pertama kali mendapat asupan susu formula. Malam harinya, Emira mulai kejang cukup lama.
Akhirnya pada Senin malam, Yusuf dan istri membawa putrinya ke bidan terdekat.

Bidan kemudian menyarankan Yusuf membawa putrinya ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Dibawalah Emira ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta.

Saat pertama kali masuk IGD, kondisi bayi Emira masih sadar dan mengenali kedua orang tuanya. Namun di IGD tersebut kondisinya menurun dengan cepat sekali.

“Waktu begitu cepat berlalu, rasanya waktu sangat berharga sekali. awal-awal masih mengenali kami, orang tuanya. Tapi kemudian di IGD penurunannya sangat cepat dan signifikan. Kami sudah dapat isyarat-isyarat berbasis medis, misal saturasi menurun dan sebagainya,” kata Yusuf.

Baca Juga: Sirup Obat Diduga Jadi Sebab Gangguan Ginjal, Ini Hasil Uji BPOM

Di IGD, kondisi Emiri kejang terus, lalu oleh dokter diberi obat via dubur. Saat itu, dia sudah tidak sadar. Dokter kemudian menyatakan kondisi Emira semakin kritis.

"Sempat tersadar sekitar jam 2 dini hari tetapi sekitar dadanya seperti kesakitan dan tangannya tidak mau diam," tutur Yusuf.

Kondisi bayi Emira berangsur-angsur semakin memprihatinkan. Kondisi paru-paru menurun, diikuti dengan liver, syaraf dan terakhir ginjal mengalami penurunan yang memprihatinkan. Selasa (20/9/2022) Emira harus masuk inkubator. Pada sore harinya, bayi Emira harus dirujuk ke RSUP Sardjito dan langsung masuk ke Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

“Di situ saya berjuang melawan dan harus siap kehilangan. Dokter juga tersentuh secara emosi. Tinggal perjuangan kami sebagai orang tua berat,” kata Yusuf menahan haru.

Baca Juga: Cegah Lonjakan Kasus, Kemenkes Terbitkan Panduan Penanganan Gangguan Ginjal

Di tengah kondisi putrinya yang semakin kritis, Yusuf bertemu dengan orang tua dari pasien lain dengan gejala serupa. Kendati penyakitnya masih diidentifikasi, namun penurunan tiap organ tubuhnya hampir sama. Yusuf dan orang tua pasien lain juga beberapa kali dipanggil pihak dokter untuk membahas kondisi anak-anak mereka.

Dokter akhirnya merekomendasikan kepada Yusuf untuk memberikan intravenous immunoglobulin (IVIG), yakni terapi untuk menambah antibodi dan mencegah infeksi pada pasien yang kekurangan antibodi. Kendati biayanya cukup mahal, Yusuf pun menyetujuinya.

“Jadi di situ ada dokter menjelaskan, nanti mungkin ikhtiar terbaik, ada pemberian imunologi, IVIG, lumayan harganya, dan resikonya. Misal, qadarullah selamat itu dokter menjelaskan. Saya tandatangan, saya tidak pikir biaya dan sebagainya. saya ikhtiar sebagai seorang muslim,” tutur Yusuf.

Namun ternyata bayi Emira tidak lolos screening untuk mendapatkan IVIG pada Kamis (22/9/2022). Hari berikutnya, akhirnya IVIG bisa diberikan. Yusuf menyebut putrinya mendapatkan pengobatan tersebut sebanyak dua kali.

“Tapi ternyata tidak membantu, kondisi semakin drop terus,” ujar Yusuf.

Baca Juga: Cara Orang Tua Deteksi Dini Gangguan Ginjal Akut pada Anak

Akhirnya pada Ahad (25/9/2022), nyawa bayi Emira tak terselamatkan. Yusuf dan istrinya harus merelakan kepergian putrinya.

“Jejak sejarahnya hanya pendek: 7 bulan. Menghirup udara kala Bumi masih didera pandemi pada 23 Februari. Tepat pada Ahad pukul ahad 25 September 2022, ia kembali ke pemilik sebenarnya: Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata Yusuf.

Berharap Pemerintah Serius Meneliti Penyebab Penyakit

Nama putri mereka diambil dari nama ilmuwan muslimah berdarah Rusia, Tatiana Denisova. Namun ternyata, putrinya tidak bisa melanjutkan sejarah hidupnya menjalani cita-cita orang tuanya mengabdi pada ilmu pengetahuan.

“Ia yang dirapalkan untuk bisa mengabdikan di jalan pengetahuan, harus kami ikhlaskan menjadi bagian dari observasi pengetahuan. Agar tidak ada kejadian serupa di masa-masa kemudian,” kata Yusuf.

Yusuf sangat berharap kepergian putrinya dan anak-anak lain akibat gangguan ginjal akut ini, tidak dianggap enteng. Namun harus diseriusi oleh berbagai pihak, terutama pemerintah, dengan melakukan riset dan observasi serius mencari penyebab penyakit.

Baca Juga: Soal Kasus Gangguan Ginjal Akut, Pemerintah Perlu Gencarkan Edukasi Publik

Alih-alih melakukan riset yang serius, memunculkan klaster penyakit di wilayah tertentu, atau menetapkan kejadian luar biasa, pemerintah dan stakeholder-nya justru menumbalkan obat sirup sebagai terduga penyebab gangguan ginjal akut.

Yusuf sendiri menyebut putrinya sama sekali tidak meminum obat sirup yang kini tengah dicurigai mengandung zat yang dapat menyebabkan gangguan ginjal akut.

"Jadi, memang tidak pernah sama sekali (minum obat sirup)," kata Yusuf.

Menurut Yusuf, tingginya angka kematian bayi dan anak akibat gangguan ginjal akut merupakan tantangan untuk dunia sains. Harus ada langkah yang serius, alih alih menimbulkan kepanikan publik.

"Ada roadmap dalam politik medis yang keliru. Disusuri saja klasternya, karena ada tuh yang sembuh dan diwawancarai. Tapi kan yang banyak wafat itu bayi. Di Jogja itu di rata-rata di bawah 1 tahun, termasuk pasien yang orang tuanya saya temui. Sehingga memang menurut saya layak untuk diteliti, alih-alih ke fokus lain, ini ada pola, harusnya pola itu jadi klaster,” pungkas Yusuf.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 31 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)