Rumah sebagai Penolong Keluarga
Azhar azis
Jum'at, 09 Juli 2021 - 01:44 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/ iStock
Rumahku adalah surgaku. Begitulah konsep sebuah rumah yang ideal bagi seorang muslim. Bagaimana mungkin seseorang membangun rumah yang kelak justru akan mengusirnya dari pintu surga?
Maka pilihlah rumah yang memberiku ketenangan, pendidikan, serta rasa nyaman dan aman dalam beribadah. Selain ruang dan tata letak yang nyaman, jangan lupa mihrab atau mushallah di dalamnya walau hanya cukup untuk bersujud. Atau sekadar untuk meneteskan air mata dalam sujud.
Sebuah keteladanan bagi ummat Islam dari kalangan sahabat. Namanya Abu Darda’. Dia menikmati sujudnya di sepanjang malam hingga ia menangis karena rasa takut kepada Allah. Di kala manusia terlelap dalam tidurnya, ia bangun bermunajat.
Abu Darda’. Dia membangun sebuah mihrab di rumahnya. Dia mihrab tempat beribadah itulah dia menghidupkan malam-malamnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Suatu hari, istrinya kedatangan tamu perempuan. Tiba-tiba saja dia melihat tetesan-tetesan air di mihrab tersebut. Sang tamu pun bertanya kepada tuan rumah. “Wahai istri Abu Darda’, kenapa engkau biarkan tetesan air hujan itu membasahi mihrabmu?”
Istri Abu Darda’ menjawab, “itu bukan air hujan melainkan tetesan air mata Abu Darda’ setiap malam di sepanjang sujudnya. Dia menangis dan air matanya mengalir karena rasa takut dan cintanya kepada Allah.” Mendengar jawaban itu, sang tamu terperangah. Ternyata, Abu Darda’ sangat menikmati sujudnya hingga ia menangis. Dia tahu enaknya beribadah adalah saat sujud. Sama saat makan, enaknya saat di lidah saja dan enaknya tidur saat menjelang tidur. Setelah itu, nikmatnya malam adalah bangun tahajud tengah malam.
Rumah sejatinya adalah miniatur surga. Hendaknya ia menjadi tempat yang paling menyenangkan di bandingkan dengan tempat lain. Semua penghuninya bisa merasakan ketenangan dan betah. Inilah yang membedakan keluarga seorang yang beriman. Orang beriman mendesain rumahnya sebagai rumah ibadah, rumah ketenangan.
Abu Bakar RA, ketika Islam masih tertekan di Kota Mekkah, Beliau membuat mushalla di rumahnya. Di situ beliau mengaji setiap hari, membaca berbagai ilmu pengetahuan, sehingga tetangga banyak yang datang ke rumahnya. Jadilah rumah Abu Bakar sebagai rumah ilmu.
Maka pilihlah rumah yang memberiku ketenangan, pendidikan, serta rasa nyaman dan aman dalam beribadah. Selain ruang dan tata letak yang nyaman, jangan lupa mihrab atau mushallah di dalamnya walau hanya cukup untuk bersujud. Atau sekadar untuk meneteskan air mata dalam sujud.
Sebuah keteladanan bagi ummat Islam dari kalangan sahabat. Namanya Abu Darda’. Dia menikmati sujudnya di sepanjang malam hingga ia menangis karena rasa takut kepada Allah. Di kala manusia terlelap dalam tidurnya, ia bangun bermunajat.
Abu Darda’. Dia membangun sebuah mihrab di rumahnya. Dia mihrab tempat beribadah itulah dia menghidupkan malam-malamnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Suatu hari, istrinya kedatangan tamu perempuan. Tiba-tiba saja dia melihat tetesan-tetesan air di mihrab tersebut. Sang tamu pun bertanya kepada tuan rumah. “Wahai istri Abu Darda’, kenapa engkau biarkan tetesan air hujan itu membasahi mihrabmu?”
Istri Abu Darda’ menjawab, “itu bukan air hujan melainkan tetesan air mata Abu Darda’ setiap malam di sepanjang sujudnya. Dia menangis dan air matanya mengalir karena rasa takut dan cintanya kepada Allah.” Mendengar jawaban itu, sang tamu terperangah. Ternyata, Abu Darda’ sangat menikmati sujudnya hingga ia menangis. Dia tahu enaknya beribadah adalah saat sujud. Sama saat makan, enaknya saat di lidah saja dan enaknya tidur saat menjelang tidur. Setelah itu, nikmatnya malam adalah bangun tahajud tengah malam.
Rumah sejatinya adalah miniatur surga. Hendaknya ia menjadi tempat yang paling menyenangkan di bandingkan dengan tempat lain. Semua penghuninya bisa merasakan ketenangan dan betah. Inilah yang membedakan keluarga seorang yang beriman. Orang beriman mendesain rumahnya sebagai rumah ibadah, rumah ketenangan.
Abu Bakar RA, ketika Islam masih tertekan di Kota Mekkah, Beliau membuat mushalla di rumahnya. Di situ beliau mengaji setiap hari, membaca berbagai ilmu pengetahuan, sehingga tetangga banyak yang datang ke rumahnya. Jadilah rumah Abu Bakar sebagai rumah ilmu.