LANGIT7.ID - Rumahku adalah surgaku. Begitulah konsep sebuah rumah yang ideal bagi seorang muslim. Bagaimana mungkin seseorang membangun rumah yang kelak justru akan mengusirnya dari pintu surga?
Maka pilihlah rumah yang memberiku ketenangan, pendidikan, serta rasa nyaman dan aman dalam beribadah. Selain ruang dan tata letak yang nyaman, jangan lupa mihrab atau mushallah di dalamnya walau hanya cukup untuk bersujud. Atau sekadar untuk meneteskan air mata dalam sujud.
Sebuah keteladanan bagi ummat Islam dari kalangan sahabat. Namanya Abu Darda’. Dia menikmati sujudnya di sepanjang malam hingga ia menangis karena rasa takut kepada Allah. Di kala manusia terlelap dalam tidurnya, ia bangun bermunajat.
Abu Darda’. Dia membangun sebuah mihrab di rumahnya. Dia mihrab tempat beribadah itulah dia menghidupkan malam-malamnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Suatu hari, istrinya kedatangan tamu perempuan. Tiba-tiba saja dia melihat tetesan-tetesan air di mihrab tersebut. Sang tamu pun bertanya kepada tuan rumah. “Wahai istri Abu Darda’, kenapa engkau biarkan tetesan air hujan itu membasahi mihrabmu?”
Istri Abu Darda’ menjawab, “itu bukan air hujan melainkan tetesan air mata Abu Darda’ setiap malam di sepanjang sujudnya. Dia menangis dan air matanya mengalir karena rasa takut dan cintanya kepada Allah.” Mendengar jawaban itu, sang tamu terperangah. Ternyata, Abu Darda’ sangat menikmati sujudnya hingga ia menangis. Dia tahu enaknya beribadah adalah saat sujud. Sama saat makan, enaknya saat di lidah saja dan enaknya tidur saat menjelang tidur. Setelah itu, nikmatnya malam adalah bangun tahajud tengah malam.
Rumah sejatinya adalah miniatur surga. Hendaknya ia menjadi tempat yang paling menyenangkan di bandingkan dengan tempat lain. Semua penghuninya bisa merasakan ketenangan dan betah. Inilah yang membedakan keluarga seorang yang beriman. Orang beriman mendesain rumahnya sebagai rumah ibadah, rumah ketenangan.
Abu Bakar RA, ketika Islam masih tertekan di Kota Mekkah, Beliau membuat mushalla di rumahnya. Di situ beliau mengaji setiap hari, membaca berbagai ilmu pengetahuan, sehingga tetangga banyak yang datang ke rumahnya. Jadilah rumah Abu Bakar sebagai rumah ilmu.
Maka jadikanlah rumah kita dalam naungan kebahagian sebagaimana hadits Nabi. Dari Ismail bin Muhammad bin Sa’ad bin Abu Waqas dari ayahku dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga perkara yang bisa membuat manusia yang bahagia dan juga bisa membuatnya sengsara. Yang membuat bahagia adalah istri yang salehah, rumah yang damai, dan kendaraan yang baik. Adapun yang membuat sengsara adalah istri, rumah dan kendaraan yang tidak baik.”
Rumah tidak cukup sebagai rumah ibadah tetapi juga sebagai rumah perlindungan bagi istri dan anak-anak agar ia menjadi penolong keluarga di akhirat. Seperti keluarga sahabat yang kaya raya, Mus’ab bin Umair. Semua pakaiannya bermerek. Parfumnya saja, termahal di zamannya.
Namun dia tinggalkan semua kenyamanan dan fasilitas itu. Mus’ab, pemuda yang luar biasa ini memang tidak mendapatkan tropi di Perang Badar. Lalu ia ikut di Perang Uhud. Di sanalah ia mendapatkan piagam sebagai syahid. Kemudian Rasulullah menutupi badan Mus’ab dengan kain kafan. Tidak cukup untuk metutupi sekujur tubuhnya. Jika ditutup semua bagian kepalanya, maka kakinya kelihatan.
Sebuah renungan. Umar bin Khaththab memberikan testimoni nikmatnya bangun tengah malam. Umar bin Khaththab mengakui tidak ingin kehilangan kenikmatan dalam hidupnya karena tiga hal. Itulah yang membuatnya ingin hidup berlama-lama di dunia ini.
Pertama, dia merasakan nikmatnya berdakwah di jalan Allah. Karenanya, ia menjadikan dakwah sebagai ladang pengabdian dalam hidupnya. Tak sesaat pun ia lewatkan tanpa dakwah.
Kedua, ia larut dalam kenikmatan malam sehingga ia mengarunginya sepanjang waktu untuk bangun tengah malam. Ia bersujud dalam kekhusyu’an. Ketiga, Umar bin Khaththab sangat menikmati kebersamaan dan kedekatannya dengan ummat Islam. Itulah tiga kenikmatan dalam hidup Umar bin Khaththab.
Wallahu A'lam.(jak)