LANGIT7.ID- Di tengah hiruk-pikuk persiapan fisik menyambut bulan suci, Sya’ban sering kali hadir sebagai sekadar angka di kalender. Namun, bagi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bulan ini adalah ruang privasi spiritual yang sangat intens. Sya’ban bukan sekadar masa transisi, melainkan sebuah laboratorium ketaatan di mana amal-amal manusia dipertaruhkan sebelum sampai ke meja pelaporan tertinggi.
Menurut tinjauan sejarah dan dalil yang sahih, terdapat beberapa amalan khusus yang dikerjakan Nabi di bulan ini. Amalan yang paling menonjol adalah memperbanyak puasa sunnah. Aisyah Radhiyallahu anhuma memberikan testimoni penting dalam sebuah riwayat: Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah bulan Sya’ban kemudian beliau menyambungnya dengan Ramadhan. Kedekatan durasi puasa ini menunjukkan adanya upaya pemanasan spiritual agar raga tidak kaget saat menghadapi kewajiban di bulan berikutnya.
Namun, mengapa harus Sya’ban? Jawabannya terletak pada sebuah pengamatan sosiologis Nabi terhadap perilaku manusia. Beliau bersabda:
ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ…Bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Di sinilah letak interpretasi yang menarik. Dalam tradisi Islam, menghidupkan waktu-waktu yang banyak manusia lalai darinya memiliki nilai keutamaan tersendiri. Ketika orang lain terlena dengan euforia selesainya bulan haram Rajab atau justru sibuk dengan urusan duniawi sebelum Ramadan, Nabi memilih untuk menyendiri dalam ibadah.
Lebih dari sekadar penghilang kelalaian, Sya’ban adalah waktu krusial untuk pelaporan data langit. Nabi menegaskan bahwa Sya’ban adalah bulan di mana amal seluruh manusia akan diangkat kepada Allah Azza wa Jalla. Dalam hadits riwayat An-Nasa'i, beliau bersabda:
… وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُrفَعَ عَمَلِـيْ وَأَنَا صَائِمٌ.Di bulan itu diangkat amal-amal manusia kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila saat amalku diangkat aku sedang berpuasa. Logika ini menempatkan puasa sebagai segel atau kondisi terbaik saat sebuah portofolio amal diserahkan kepada Sang Pencipta.
Karena itulah, spektrum amalan di bulan ini tidak terbatas pada puasa. Umat didorong untuk memperbanyak amalan shalih lainnya secara holistik. Mulai dari memperketat kualitas shalat lima waktu hingga menghidupkan shalat sunnah rawatib di rumah. Nabi memberikan arahan yang jelas:
…فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِـيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِـi بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوْبَةَ.Kerjakanlah shalat sunnah di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah yang dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat wajib. Selain itu, menghidupkan malam dengan Tahajjud dan Witir, serta menyiram hati dengan tilawah Al-Quran dan dzikir pagi-petang menjadi instrumen penting untuk menjaga kewarasan spiritual.
Sya’ban juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Memperbanyak sedekah, membantu mereka yang kesulitan, serta mendamaikan sengketa adalah amalan nyata yang diangkat bersama catatan puasa. Sya’ban bukan hanya tentang kesalehan pribadi di atas sajadah, tetapi juga tentang kesalehan sosial di tengah masyarakat.
Tak kalah penting, Sya’ban adalah kesempatan terakhir untuk melunasi utang masa lalu. Bagi mereka yang masih memiliki kewajiban qadha puasa Ramadan tahun sebelumnya, Sya’ban adalah garis finish yang tidak boleh dilampaui. Aisyah Radhiyallahu anhuma bercerita: Suatu ketika aku memiliki hutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’nya selain pada bulan Sya’ban. Menunda utang puasa hingga Ramadan berikutnya tanpa uzur darurat adalah sebuah kelalaian hukum yang fatal.
Pada akhirnya, Sya’ban mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri. Apakah kita akan menjadi bagian dari kelompok manusia yang lalai di antara dua bulan mulia, ataukah kita akan menjadi pencari oase yang memastikan amalnya diangkat dalam kondisi paling suci? Sya’ban adalah tentang konsistensi, persiapan, dan penyucian diri sebelum memasuki pintu besar Ramadan.
(mif)