Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 30 Januari 2026
home masjid detail berita

Menjembatani Larangan dan Anjuran: Tafsir Teka-teki Puasa Syaban

miftah yusufpati Kamis, 22 Januari 2026 - 16:00 WIB
Menjembatani Larangan dan Anjuran: Tafsir Teka-teki Puasa Syaban
Mempertemukan hadis larangan puasa pertengahan Syaban dengan anjuran memperbanyaknya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Bagi para pencari kepastian hukum, literatur hadis terkadang tampak seperti sebuah teka-teki yang saling mengunci. Di satu sisi, ada perintah untuk memperbanyak ibadah, namun di sisi lain, muncul rambu-rambu yang menahan langkah. Ketegangan intelektual inilah yang terekam dalam diskursus mengenai puasa di bulan Sya’ban. Dua narasi besar yang tampak berseberangan menuntut jawaban yang jernih agar umat tidak terjebak dalam kebingungan ritual.

Persoalan ini bermula dari dua jalur riwayat yang sama-sama menyandang predikat shahih. Dalam kitab Shahihul Jami nomor 397, terdapat hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang merekam larangan keras Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى يَكُوْنَ رَمَضَانُ

Jika Sya’ban sudah mencapai pertengahan, maka janganlah kalian melakukan puasa sunnah sampai Ramadhan.

Kalimat ini seperti garis merah yang memutus antusiasme mereka yang hendak memulai latihan puasa di penghujung Sya’ban.

Namun, di lembaran lain, ditemukan kesaksian Aisyah Radhiyallahu anhuma yang dicatat oleh Imam as-Suyuthi dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani. Aisyah memberikan potret yang kontras mengenai kebiasaan Nabi:

كَانَ أَحَبُّ الشُّهُوْرِ إِلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُوْMَهُ شَعْبَانَ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

Bulan yang paling disukai oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk melaksanakan ibadah puasa adalah Sya’ban, lalu beliau lanjutkan ke Ramadhan.

Di sini, Sya’ban justru digambarkan sebagai bulan maraton puasa yang menyambung langsung ke bulan suci.

Bagaimana mempertemukan makna dua hadits ini? Pertanyaan ini menjadi krusial karena menyangkut konsistensi ajaran Islam. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu Fatawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah volume 15 halaman 384-385, memberikan jembatan interpretasi yang sangat membantu. Menurut beliau, kunci untuk memahami dua hadits ini terletak pada konteks dan kebiasaan subjek yang menjalankan puasa.

Interpretasi bin Baz menjelaskan bahwa Rasulullah memang pernah melaksanakan ibadah puasa pada seluruh bulan Sya’ban atau sebagian besarnya. Hal ini shahih berdasarkan kesaksian Aisyah dan Ummu Salamah. Maka, bagi seorang muslim yang sudah terbiasa berpuasa sejak awal bulan atau memiliki rutinitas puasa sunnah yang konsisten, melakukan puasa setelah pertengahan Sya’ban tetaplah sesuai dengan Sunnah.

Lantas, bagaimana dengan larangan di pertengahan bulan? Syaikh al-Albani dan para ulama hadits sepakat bahwa maksud larangan tersebut adalah larangan memulai ibadah puasa justru saat bulan sudah melewati separuh jalannya. Garis merah ini ditujukan bagi mereka yang baru saja bangun dari kelalaian dan mendadak ingin berpuasa saat Sya’ban sudah di ambang akhir tanpa ada riwayat kebiasaan sebelumnya.

Larangan ini memiliki dimensi perlindungan fisik. Syariat tidak menginginkan seseorang mengalami kelelahan yang luar biasa tepat sebelum memasuki kewajiban utama di bulan Ramadan. Namun, bagi mereka yang jiwanya sudah tertempa sejak awal Sya’ban, puasa tersebut justru menjadi energi penguat.

Dengan demikian, kedua hadits tersebut tidaklah bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memberikan panduan teknis. Satu hadits berbicara tentang perlunya konsistensi sejak awal, sementara hadits lainnya berbicara tentang pencegahan terhadap antusiasme sesaat yang berisiko melemahkan kondisi fisik di hari-hari terakhir menuju Ramadan.

Memahami dialektika ini membawa kita pada kesimpulan bahwa dalam beragama, pemahaman yang menyeluruh terhadap teks adalah kunci. Membenturkan satu hadits dengan hadits lain tanpa melihat penjelasan para ahli hanya akan melahirkan kekakuan hukum. Melalui penjelasan Syaikh bin Baz, kita diajak untuk melihat Sya’ban sebagai bulan yang fleksibel bagi mereka yang sudah mempersiapkan diri, namun menjadi bulan yang penuh rambu bagi mereka yang baru ingin memulainya di saat-saat terakhir.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 30 Januari 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
12:09
Ashar
15:29
Maghrib
18:21
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan