Rasulullah Mengencangkan Ikat Pinggangnya di 10 Hari Terakhir Ramadan, Apa Maknanya?
Miftah yusufpati
Rabu, 19 Maret 2025 - 05:00 WIB
Mengencakan ikat pinggang salah satu maknanya adalah mengontrol hati dan pikiran dari hal-hal yang dilarang Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Tak terasa, umat Islam yang menjalankan ibadah puasa sudah memasuki hari ke-19, sebentar lagi memasuki 10 hari terakhir. Pada waktu ini, keberkahan dan kebaikan disebar dengan amat berlimpah, serta akan diturunkan lailatul qadar. Karena itu, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, di 10 hari terakhir Ramadan ini Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya untuk meningkatkan ibadah dan amal saleh.
"Dari Aisyah ra, ia berkata, Rasulullah SAW ketika masuk 10 hari terakhir bulan Ramadan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (muttafaq 'alaih)."
Para ulama menakwilkan mengencangkan sarung artinya mengurangi makan, tidur, dan tidak mendekat ke para istrinya. Fokus beribadah. "Saking fokusnya ibadah, tidak ingin waktunya sia-sia membenahi hal remeh-temeh. Termasuk membetulkan sarung melorot, terlalu remeh-temeh mengganggu fokus ibadah, sehingga lebih baik diikat,” tutur penulis buku-buku Islami, Salim A. Fillah suatu ketika.
Mengencangkan ikat pinggang merupakan bahasa simbolik seperti yang dikatakan Imam Ghazali bahwa kualitas diri itu terbagi menjadi tiga tingkatan.
Pertama, tingkatan fisik jasmaniyah, seperti mengendalikan diri dari lapar dan dahaga, serta tidak melakukan hubungan seks bagi suami istri yang menjalankan ibadah puasa.
Baca juga: Puasa Menurut Al-Qur'an: 3 Ayat tentang Puasa Ramadan Terputus-putus
Tingkatan kedua, yaitu mengencangkan ikat pinggang dengan mengendalikan pancaindra seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, dan semua yang berhubungan dengan panca indera lainnya. Pada tingkatan ini, kita hanya tertuju kepada Allah.
"Dari Aisyah ra, ia berkata, Rasulullah SAW ketika masuk 10 hari terakhir bulan Ramadan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (muttafaq 'alaih)."
Para ulama menakwilkan mengencangkan sarung artinya mengurangi makan, tidur, dan tidak mendekat ke para istrinya. Fokus beribadah. "Saking fokusnya ibadah, tidak ingin waktunya sia-sia membenahi hal remeh-temeh. Termasuk membetulkan sarung melorot, terlalu remeh-temeh mengganggu fokus ibadah, sehingga lebih baik diikat,” tutur penulis buku-buku Islami, Salim A. Fillah suatu ketika.
Mengencangkan ikat pinggang merupakan bahasa simbolik seperti yang dikatakan Imam Ghazali bahwa kualitas diri itu terbagi menjadi tiga tingkatan.
Pertama, tingkatan fisik jasmaniyah, seperti mengendalikan diri dari lapar dan dahaga, serta tidak melakukan hubungan seks bagi suami istri yang menjalankan ibadah puasa.
Baca juga: Puasa Menurut Al-Qur'an: 3 Ayat tentang Puasa Ramadan Terputus-putus
Tingkatan kedua, yaitu mengencangkan ikat pinggang dengan mengendalikan pancaindra seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, dan semua yang berhubungan dengan panca indera lainnya. Pada tingkatan ini, kita hanya tertuju kepada Allah.