Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Miftah yusufpati
Senin, 30 Juni 2025 - 04:15 WIB
Muhammad Asad. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Barat tak hanya membawa mesin dan sistem, tapi juga cara pandang. Muhammad Asad mengajak dunia Islam untuk tidak menutup diri dari perubahan, tetapi juga tidak tunduk begitu saja pada arus yang merusak fondasi nilai. Di antara dua ekstrem itulah, simpang jalan Islam terbentang hingga hari ini.
Namun, seperti yang dicatat Muhammad Asad dalam karyanya yang monumental, Islam at the Crossroads (1935), keterhubungan fisik ini melahirkan sebuah dilema peradaban yang lebih mendalam: bagaimana dunia Islam menanggapi dominasi kultural dan intelektual dari Barat yang secara historis, politis, dan ekonomis memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar?
Menurut Asad, dalam bidang ekonomi, hukum pertukaran bersifat keras: tidak ada bangsa yang bisa terus-menerus hanya membeli atau menjual. Suatu saat, semua bangsa harus saling memberi dan menerima, jika tidak ingin tersingkir dari panggung global. Dengan kata lain, pertukaran barang memaksa adanya keseimbangan.
Namun logika ini tidak berlaku dalam ranah budaya. Pengaruh kultural sering kali berjalan satu arah. Barat—karena keunggulan teknologi, ekonomi, dan militer—telah menjadi pusat yang menyedot perhatian dunia.
Negara-negara Muslim, dalam posisi yang lebih lemah, secara pasif menjadi penerima nilai, gagasan, bahkan model hidup yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai mereka sendiri.
Baca juga: 5 Keutamaan Hari Arafah: Salah Satunya Hari Kesempurnaan Agama Islam
Peradaban dan Jalan Satu Arah
Namun, seperti yang dicatat Muhammad Asad dalam karyanya yang monumental, Islam at the Crossroads (1935), keterhubungan fisik ini melahirkan sebuah dilema peradaban yang lebih mendalam: bagaimana dunia Islam menanggapi dominasi kultural dan intelektual dari Barat yang secara historis, politis, dan ekonomis memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar?
Menurut Asad, dalam bidang ekonomi, hukum pertukaran bersifat keras: tidak ada bangsa yang bisa terus-menerus hanya membeli atau menjual. Suatu saat, semua bangsa harus saling memberi dan menerima, jika tidak ingin tersingkir dari panggung global. Dengan kata lain, pertukaran barang memaksa adanya keseimbangan.
Namun logika ini tidak berlaku dalam ranah budaya. Pengaruh kultural sering kali berjalan satu arah. Barat—karena keunggulan teknologi, ekonomi, dan militer—telah menjadi pusat yang menyedot perhatian dunia.
Negara-negara Muslim, dalam posisi yang lebih lemah, secara pasif menjadi penerima nilai, gagasan, bahkan model hidup yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai mereka sendiri.
Baca juga: 5 Keutamaan Hari Arafah: Salah Satunya Hari Kesempurnaan Agama Islam
Peradaban dan Jalan Satu Arah