Tauhid Tak Sekadar Ilmu: Jejak Sejarah, Politik, dan Pergulatan Akal dalam Dunia Islam
Miftah yusufpati
Jum'at, 04 Juli 2025 - 04:15 WIB
Tauhid bukan sekadar ilmu tentang Tuhan. Ia adalah napas yang menghidupkan seluruh dimensi keberagamaan seorang Muslim. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Ada paradoks dalam sejarah intelektual Islam: ajaran tauhid yang menjadi napas utama risalah kenabian justru baru menjadi ilmu setelah Nabi Muhammad wafat. Tauhid sebagai sikap hidup sudah sempurna tertanam di dalam diri Rasulullah—manusia bertauhid paripurna, insan kamil, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (QS 33:21) dan disaksikan langsung oleh istrinya, Siti Aisyah, yang berkata, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”
Namun tauhid sebagai disiplin ilmu, sebagai refleksi intelektual atas ketuhanan, justru baru tumbuh kemudian. Dan seperti sejarah pemikiran di banyak tradisi besar, pertumbuhan ilmu tauhid tidak lepas dari konteks: kejayaan militer, keterbukaan terhadap filsafat asing, dan krisis politik dalam negeri umat Islam.
Analisis ini merujuk pada pandangan Ir. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim, seorang pemikir Muslim Indonesia, dalam buku Kuliah Tauhid (Pustaka Salman ITB, 1980/Yayasan Pembina Sari Insan, 1993).
Baca juga: Zaid bin Amr: Sepupu Umar bin Khattab yang Bertauhid sebelum Datangnya Islam
Tauhid Sebagai Laku, Bukan Ilmu
Pada masa Nabi, kata Imaduddin, tauhid tak diajarkan dalam bentuk silabus kuliah atau sistematika filsafati. Tauhid dihayati, dijalani, dan ditanamkan lewat laku hidup Rasulullah: dalam ibadahnya yang khusyuk, dalam keputusannya yang adil, dalam sikap hidup yang sederhana. Dalam konteks ini, tauhid lebih menyerupai kesadaran eksistensial daripada definisi teologis.
“Rasulullah itu Qur’an yang hidup,” tulis Imaduddin mengutip jawaban Siti Aisyah. Tauhid bukan hasil debat atau formulasi nalar, tapi pancaran dari akhlak dan tindakan.
Namun tauhid sebagai disiplin ilmu, sebagai refleksi intelektual atas ketuhanan, justru baru tumbuh kemudian. Dan seperti sejarah pemikiran di banyak tradisi besar, pertumbuhan ilmu tauhid tidak lepas dari konteks: kejayaan militer, keterbukaan terhadap filsafat asing, dan krisis politik dalam negeri umat Islam.
Analisis ini merujuk pada pandangan Ir. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim, seorang pemikir Muslim Indonesia, dalam buku Kuliah Tauhid (Pustaka Salman ITB, 1980/Yayasan Pembina Sari Insan, 1993).
Baca juga: Zaid bin Amr: Sepupu Umar bin Khattab yang Bertauhid sebelum Datangnya Islam
Tauhid Sebagai Laku, Bukan Ilmu
Pada masa Nabi, kata Imaduddin, tauhid tak diajarkan dalam bentuk silabus kuliah atau sistematika filsafati. Tauhid dihayati, dijalani, dan ditanamkan lewat laku hidup Rasulullah: dalam ibadahnya yang khusyuk, dalam keputusannya yang adil, dalam sikap hidup yang sederhana. Dalam konteks ini, tauhid lebih menyerupai kesadaran eksistensial daripada definisi teologis.
“Rasulullah itu Qur’an yang hidup,” tulis Imaduddin mengutip jawaban Siti Aisyah. Tauhid bukan hasil debat atau formulasi nalar, tapi pancaran dari akhlak dan tindakan.