LANGIT7.ID- Ada paradoks dalam sejarah intelektual Islam: ajaran
tauhid yang menjadi napas utama risalah kenabian justru baru menjadi ilmu setelah
Nabi Muhammad wafat. Tauhid sebagai sikap hidup sudah sempurna tertanam di dalam diri Rasulullah—manusia bertauhid paripurna, insan kamil, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (QS 33:21) dan disaksikan langsung oleh istrinya, Siti Aisyah, yang berkata, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”
Namun tauhid sebagai disiplin ilmu, sebagai refleksi intelektual atas ketuhanan, justru baru tumbuh kemudian. Dan seperti sejarah pemikiran di banyak tradisi besar, pertumbuhan ilmu tauhid tidak lepas dari konteks: kejayaan militer, keterbukaan terhadap filsafat asing, dan krisis politik dalam negeri umat Islam.
Analisis ini merujuk pada pandangan
Ir. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim, seorang pemikir Muslim Indonesia, dalam buku Kuliah Tauhid (Pustaka Salman ITB, 1980/Yayasan Pembina Sari Insan, 1993).
Baca juga: Zaid bin Amr: Sepupu Umar bin Khattab yang Bertauhid sebelum Datangnya Islam Tauhid Sebagai Laku, Bukan IlmuPada masa Nabi, kata Imaduddin, tauhid tak diajarkan dalam bentuk silabus kuliah atau sistematika filsafati. Tauhid dihayati, dijalani, dan ditanamkan lewat laku hidup Rasulullah: dalam ibadahnya yang khusyuk, dalam keputusannya yang adil, dalam sikap hidup yang sederhana. Dalam konteks ini, tauhid lebih menyerupai kesadaran eksistensial daripada definisi teologis.
“Rasulullah itu Qur’an yang hidup,” tulis Imaduddin mengutip jawaban Siti Aisyah. Tauhid bukan hasil debat atau formulasi nalar, tapi pancaran dari akhlak dan tindakan.
Setelah wafatnya Rasulullah dan berkembangnya Islam ke wilayah Persia dan Romawi, umat Islam mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran baru. Buku-buku dari perpustakaan Yunani dan Persia diterjemahkan, dan pikiran-pikiran dari Socrates, Plato, Aristoteles hingga Pythagoras dipelajari dengan antusias.
Keterbukaan intelektual ini, seperti dicatat Imaduddin, menghidupkan semangat pencarian ilmu dalam Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW: “Tuntutlah ilmu, sekalipun ke negeri Cina.”
Namun masuknya filsafat membawa juga persoalan-persoalan baru: tentang kehendak bebas, takdir, eksistensi Tuhan, dan keabadian jiwa. Pertanyaan-pertanyaan itu mengguncang fondasi iman dan menuntut jawaban teologis yang lebih sistematik. Di sinilah ilmu tauhid mulai diformulasikan sebagai ilmu kalam — bukan lagi semata-mata penghayatan, tapi juga argumentasi.
Baca juga: 5 Fakta Terbaru Meninggalnya Ustadz Yahya Waloni, Sempat Ingatkan Jamaah Soal Tauhid Ilmu yang Lahir dalam Badai PolitikSayangnya, menurut Imaduddin, perkembangan ilmu ini tidak berlangsung dalam ruang intelektual yang sehat. Ketika sistem kekhalifahan yang kolegial berubah menjadi sistem dinasti yang feodalistik, kebebasan berpikir mengalami tekanan.
Imaduddin menulis: “Perubahan sistem ketatanegaraan yang Islami di masa pemerintahan khalifah-khalifah yang bijaksana (Khulafa’ur Rasyidin) menjadi sistem dinasti… telah memecah kesatuan umat dan merombak citra masyarakat yang telah susah payah dibina Rasulullah SAW.”
Perbedaan pendapat — tentang siapa yang layak memimpin umat, atau bagaimana menafsirkan wahyu — menjelma menjadi konflik sektarian. Ilmu tauhid yang seharusnya menjadi jembatan pemersatu malah berubah menjadi alat polarisasi. Muncul perpecahan antara Sunni dan Syiah, antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah, antara yang menuhankan akal dan yang memprioritaskan wahyu.
“Perbedaan pendapat… selalu disalahgunakan oleh pemimpin-pemimpin politik kelas dua dan tiga demi kepentingan mereka,” tulis Imaduddin dengan nada getir.
Imaduddin menegaskan bahwa semangat kebebasan berpikir dan menuntut ilmu dalam Islam bukan sekadar hak, melainkan kewajiban. Tauhid bukan sekadar doktrin kaku, melainkan kesadaran hidup yang menyeluruh. Tauhid adalah cara melihat Tuhan dalam setiap dimensi kehidupan.
Baca juga: Quraish Shihab: Tauhid Adalah Prinsip Dasar Agama Samawi Namun sejarah mencatat: ketika ilmu tidak dibarengi dengan kebebasan, dan ketika kekuasaan membungkam kritik, ilmu tauhid pun tereduksi menjadi ajang pembelaan mazhab dan konflik identitas.
Kini, ketika dunia Islam kembali mencari arah di tengah krisis spiritual dan politik, pelajaran dari awal mula ilmu tauhid menjadi relevan. Bahwa tauhid sejati lahir bukan dari fanatisme atau kekuasaan, tapi dari laku hidup yang jujur, kontemplatif, dan terbuka pada perbedaan.
Tauhid, bagi Imaduddin, bukan sekadar ilmu tentang Tuhan. Ia adalah napas — yang menghidupkan seluruh dimensi keberagamaan seorang Muslim.
(mif)