Membedah Mitos: Perbedaan Hakiki Antara Imperium Islam dan Imperium Romawi
Miftah yusufpati
Jum'at, 04 Juli 2025 - 17:00 WIB
Imperium Romawi dibentuk oleh keinginan untuk ekspansi, dominasi, dan pemanfaatan wilayah taklukan untuk kepentingan negara induk. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Perbandingan antara imperium Romawi dan imperium Islam sering terdengar akrab di telinga para pelajar sejarah: dua kekuatan besar, membentang lintas benua, dan mempersatukan beragam suku dan bahasa di bawah panji kekuasaan tunggal. Tetapi, seperti ditegaskan oleh Muhammad Asad dalam karya pemikirannya yang monumental Islam di Simpang Jalan, persamaan itu hanya bersifat permukaan, dan bahkan bisa menyesatkan bila tidak dibaca secara kritis.
Sebagaimana disebut Asad, anggapan bahwa imperium Islam dan imperium Romawi "bersamaan" dalam esensi dan tujuan adalah bagian dari "lagu lama sejarah yang sumbang". Ia menyerang akar pemahaman populer yang didasarkan pada pengetahuan dangkal dan dikendalikan oleh cara pikir geopolitik semata, bukan oleh pemahaman spiritual dan sosiologis yang mendalam.
Imperium Romawi dibentuk oleh keinginan untuk ekspansi, dominasi, dan pemanfaatan wilayah taklukan untuk kepentingan negara induk. Penaklukan Romawi bersifat eksploitatif. Tidak ada misi spiritual yang menyatukan rakyatnya, tidak ada ruh yang menjadi fondasi. Romawi berkembang karena kekuatan militer dan kecanggihan administrasi; tetapi tak memiliki landasan ideal universal yang bisa mengikat bangsa-bangsa yang ditaklukkannya dalam satu kerangka nilai.
Sebaliknya, imperium Islam tumbuh di atas semangat dakwah dan kesadaran moral. Ia tidak dibentuk oleh bangsa tertentu, tidak didominasi satu ras atau wilayah pusat, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan itu sendiri.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Sejak awal, imperium Islam didasarkan pada penyebaran prinsip tauhid—keesaan Tuhan—dan keadilan sosial sebagai amanat ilahi. Bahkan bangsa-bangsa yang sebelumnya tertindas menemukan ruang baru dalam struktur kekhalifahan, dari Persia hingga Afrika Utara.
Asad menyebut dengan tegas: “Tidak ada bangsa yang diistimewakan dalam imperium Islam.” Kontras yang tajam dengan Romawi, yang selalu meletakkan warga Roma dan elit Italia sebagai puncak hierarki sosial.
Sebagaimana disebut Asad, anggapan bahwa imperium Islam dan imperium Romawi "bersamaan" dalam esensi dan tujuan adalah bagian dari "lagu lama sejarah yang sumbang". Ia menyerang akar pemahaman populer yang didasarkan pada pengetahuan dangkal dan dikendalikan oleh cara pikir geopolitik semata, bukan oleh pemahaman spiritual dan sosiologis yang mendalam.
Imperium Romawi dibentuk oleh keinginan untuk ekspansi, dominasi, dan pemanfaatan wilayah taklukan untuk kepentingan negara induk. Penaklukan Romawi bersifat eksploitatif. Tidak ada misi spiritual yang menyatukan rakyatnya, tidak ada ruh yang menjadi fondasi. Romawi berkembang karena kekuatan militer dan kecanggihan administrasi; tetapi tak memiliki landasan ideal universal yang bisa mengikat bangsa-bangsa yang ditaklukkannya dalam satu kerangka nilai.
Sebaliknya, imperium Islam tumbuh di atas semangat dakwah dan kesadaran moral. Ia tidak dibentuk oleh bangsa tertentu, tidak didominasi satu ras atau wilayah pusat, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan itu sendiri.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Sejak awal, imperium Islam didasarkan pada penyebaran prinsip tauhid—keesaan Tuhan—dan keadilan sosial sebagai amanat ilahi. Bahkan bangsa-bangsa yang sebelumnya tertindas menemukan ruang baru dalam struktur kekhalifahan, dari Persia hingga Afrika Utara.
Asad menyebut dengan tegas: “Tidak ada bangsa yang diistimewakan dalam imperium Islam.” Kontras yang tajam dengan Romawi, yang selalu meletakkan warga Roma dan elit Italia sebagai puncak hierarki sosial.