Mencari Jalan Tengah: Fiqih, Modernitas, dan Luka Historis Muslim
Miftah yusufpati
Sabtu, 05 Juli 2025 - 05:45 WIB
Prof Dr Nucholish Madjid. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Di antara debu-debu zaman yang bergerak cepat, para intelektual Muslim hari ini sedang bergulat dengan pertanyaan besar: bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern, tanpa kehilangan jiwa agamanya?
Dalam sebuah esai panjang berjudul Pandangan Kontemporer tentang Fiqh: Telaah Problematika Hukum Islam di Zaman Modern, intelektual Muslim, Prof. Dr. urcholish Madjid, menyuguhkan jawaban yang tidak hanya bernas tetapi juga penuh kesadaran sejarah.Dia mengajak pembaca menengok jejak panjang hubungan Islam dengan modernitas — sebuah hubungan yang rumit, lebih banyak dilukai pengalaman historis daripada dipandu oleh nalar teologis.
Bagi Nurcholish, zaman modern atau yang lebih tepat disebut “Zaman Teknik” seperti istilah Marshall Hodgson, bukanlah sesuatu yang lahir dari ruang hampa. Justru ia merupakan kelanjutan dari zaman agraris-urban yang pernah mencapai puncaknya pada masa kejayaan Islam. Dalam masa itu, kaum Muslim memiliki etos kosmopolitan, menghargai ilmu pengetahuan, dan membuka diri terhadap temuan-temuan baru.
Baca juga: Lima Kaidah Dasar Mazhab Syafi’i dalam Penetapan Hukum Menurut Nurcholish Madjid
Tapi modernitas juga datang membawa luka. Dalam catatannya, Nurcholish menyebut, “berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat — khususnya pengalaman permusuhan, antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa — justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern.”
Di masa lalu, Islam justru menjadi katalis pengetahuan. Tak ada “Inkuisisi” seperti yang dialami umat Kristen ketika ilmu pengetahuan menantang dogma gereja. Dalam Islam, sains justru dianggap bagian dari iman. Sayangnya, kolonialisme Eropa, kebencian sejarah, dan trauma politik membuat banyak Muslim memandang modernitas sebagai proyek Barat semata.
Karena itulah, menurut Nurcholish, modernitas sering dikaitkan dengan westernisme, bukan sebagai kelanjutan alami dari nilai-nilai Islam sendiri. Dan inilah salah satu sebab mengapa banyak negeri Muslim seperti Turki masih berkutat dalam masalah industrialisasi, sementara Jepang yang Buddhis berhasil melaju lebih cepat.
Dalam sebuah esai panjang berjudul Pandangan Kontemporer tentang Fiqh: Telaah Problematika Hukum Islam di Zaman Modern, intelektual Muslim, Prof. Dr. urcholish Madjid, menyuguhkan jawaban yang tidak hanya bernas tetapi juga penuh kesadaran sejarah.Dia mengajak pembaca menengok jejak panjang hubungan Islam dengan modernitas — sebuah hubungan yang rumit, lebih banyak dilukai pengalaman historis daripada dipandu oleh nalar teologis.
Bagi Nurcholish, zaman modern atau yang lebih tepat disebut “Zaman Teknik” seperti istilah Marshall Hodgson, bukanlah sesuatu yang lahir dari ruang hampa. Justru ia merupakan kelanjutan dari zaman agraris-urban yang pernah mencapai puncaknya pada masa kejayaan Islam. Dalam masa itu, kaum Muslim memiliki etos kosmopolitan, menghargai ilmu pengetahuan, dan membuka diri terhadap temuan-temuan baru.
Baca juga: Lima Kaidah Dasar Mazhab Syafi’i dalam Penetapan Hukum Menurut Nurcholish Madjid
Tapi modernitas juga datang membawa luka. Dalam catatannya, Nurcholish menyebut, “berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat — khususnya pengalaman permusuhan, antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa — justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern.”
Di masa lalu, Islam justru menjadi katalis pengetahuan. Tak ada “Inkuisisi” seperti yang dialami umat Kristen ketika ilmu pengetahuan menantang dogma gereja. Dalam Islam, sains justru dianggap bagian dari iman. Sayangnya, kolonialisme Eropa, kebencian sejarah, dan trauma politik membuat banyak Muslim memandang modernitas sebagai proyek Barat semata.
Karena itulah, menurut Nurcholish, modernitas sering dikaitkan dengan westernisme, bukan sebagai kelanjutan alami dari nilai-nilai Islam sendiri. Dan inilah salah satu sebab mengapa banyak negeri Muslim seperti Turki masih berkutat dalam masalah industrialisasi, sementara Jepang yang Buddhis berhasil melaju lebih cepat.