Akal Bertemu Wahyu: Menelisik Peran Ilmu Kalam dalam Khazanah Pemikiran Islam Klasik
Miftah yusufpati
Senin, 28 Juli 2025 - 05:15 WIB
Kalam bukan hanya tentang membela iman dari serangan luar, tapi juga tentang merumuskan keyakinan yang berakar kuat, tapi tetap terbuka/ Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, tidak banyak disiplin ilmu yang menempati posisi setara Ilmu Fiqih dalam hal kepraktisan, atau Ilmu Tasawuf dalam hal kedalaman batin. Namun ada satu disiplin yang sejak awal pembentukannya telah berdiri di simpang jalan antara nalar dan iman: Ilmu Kalam.
Di antara segitiga ilmu yang menguasai pemikiran Islam—Fiqh, Tasawuf, dan Falsafah—Ilmu Kalam kerap menjadi titik temu sekaligus titik gesekan, karena wilayah yang digarapnya adalah sesuatu yang amat mendasar namun tak mudah disentuh: Tuhan dan keesaan-Nya.
Ilmu Kalam membahas aspek-aspek yang paling pokok dalam ajaran Islam, seperti persoalan akidah, sifat-sifat Tuhan, serta hubungan manusia dengan Sang Khalik. Maka tidak mengherankan jika para sarjana menyebutnya sebagai teologi rasional atau teologi dialektik, karena pendekatannya yang khas: menyatukan kekuatan argumentasi logis dengan kedalaman keyakinan.
Baca juga: Plus-minus Ilmu Kalam: Ketika Al-Asy'ari Memelopori Jenis yang Anti-Muktazilah
Seperti dicatat oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin dan Peradaban, Ilmu Kalam tidak dapat dipahami semata-mata sebagai teologi dalam pengertian Kristen. Di dalamnya tidak hanya terhimpun pemikiran teologis, tapi juga dinamika khas Islam dalam menyikapi hubungan antara teks, akal, dan kenyataan sosial.
Dari Mu’tazilah ke Asy’ariyah
Ilmu Kalam lahir di tengah gejolak sejarah, saat umat Islam mulai bersentuhan dengan filsafat Yunani, agama-agama lain, serta pandangan-pandangan dunia yang menantang narasi Islam. Dalam fase inilah muncul kelompok Mu’tazilah yang menekankan peran akal dalam memahami Tuhan dan keadilan-Nya. Bagi mereka, akal adalah sumber sah dalam mengetahui kebaikan dan keburukan, bahkan tanpa wahyu sekalipun.
Di antara segitiga ilmu yang menguasai pemikiran Islam—Fiqh, Tasawuf, dan Falsafah—Ilmu Kalam kerap menjadi titik temu sekaligus titik gesekan, karena wilayah yang digarapnya adalah sesuatu yang amat mendasar namun tak mudah disentuh: Tuhan dan keesaan-Nya.
Ilmu Kalam membahas aspek-aspek yang paling pokok dalam ajaran Islam, seperti persoalan akidah, sifat-sifat Tuhan, serta hubungan manusia dengan Sang Khalik. Maka tidak mengherankan jika para sarjana menyebutnya sebagai teologi rasional atau teologi dialektik, karena pendekatannya yang khas: menyatukan kekuatan argumentasi logis dengan kedalaman keyakinan.
Baca juga: Plus-minus Ilmu Kalam: Ketika Al-Asy'ari Memelopori Jenis yang Anti-Muktazilah
Seperti dicatat oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin dan Peradaban, Ilmu Kalam tidak dapat dipahami semata-mata sebagai teologi dalam pengertian Kristen. Di dalamnya tidak hanya terhimpun pemikiran teologis, tapi juga dinamika khas Islam dalam menyikapi hubungan antara teks, akal, dan kenyataan sosial.
Dari Mu’tazilah ke Asy’ariyah
Ilmu Kalam lahir di tengah gejolak sejarah, saat umat Islam mulai bersentuhan dengan filsafat Yunani, agama-agama lain, serta pandangan-pandangan dunia yang menantang narasi Islam. Dalam fase inilah muncul kelompok Mu’tazilah yang menekankan peran akal dalam memahami Tuhan dan keadilan-Nya. Bagi mereka, akal adalah sumber sah dalam mengetahui kebaikan dan keburukan, bahkan tanpa wahyu sekalipun.