Akhlak sang Fitrah: Tidak Hanya Berkisah tentang Baik dan Buruk
Miftah yusufpati
Senin, 28 Juli 2025 - 16:00 WIB
Akhlak, dalam masyarakat modern yang disesaki kepentingan dan keserakahan, mudah sekali terpinggirkan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID — Tak satu pun ayat dalam Al-Qur’an menyebut kata “akhlak” dalam bentuk jamaknya. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggalnya: khuluq, seperti termaktub dalam surat Al-Qalam ayat 4. Namun, justru dari ayat inilah arah besar risalah Muhammad SAW dapat ditarik: "Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung."
Ayat itu bukan hanya pujian. Ia adalah pengakuan sekaligus legitimasi kenabian. Jika wahyu adalah cahaya yang turun dari langit, maka akhlak adalah pantulan cahayanya dalam kehidupan. Nabi membawa risalah bukan dengan senjata atau doktrin kaku, tapi dengan keteladanan yang mewujud dalam perilaku. "Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia," sabdanya. Hadis ini adalah tesis utama seluruh misinya.
Namun, di balik narasi tentang akhlak sebagai budi pekerti, ada kedalaman yang lebih hakiki. Akhlak bukan semata soal norma sosial, tapi hasil dari dialektika batin manusia dengan dirinya sendiri. Ketika Nabi ditanya oleh Wabishah bin Ma’bad tentang kebaikan, beliau menjawab: "Tanyailah hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang tenteram terhadap jiwa, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati."
Baca juga: Lampu yang Menyinari Umat: Jejak Aisyah dalam Ilmu dan Akhlak
Dalam "Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat", Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa akhlak adalah cermin dari fitrah. Dan fitrah, menurut Al-Qur’an, adalah bawaan asli manusia: kecenderungan kepada kebenaran, kepada yang baik.
Dalam surat Ar-Rum ayat 30 disebutkan, "Itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu." Artinya, menjadi baik bukanlah pilihan yang asing. Ia adalah gerak alami manusia sejak lahir.
Dibentuk, Bukan Dibelokkan
Ayat itu bukan hanya pujian. Ia adalah pengakuan sekaligus legitimasi kenabian. Jika wahyu adalah cahaya yang turun dari langit, maka akhlak adalah pantulan cahayanya dalam kehidupan. Nabi membawa risalah bukan dengan senjata atau doktrin kaku, tapi dengan keteladanan yang mewujud dalam perilaku. "Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia," sabdanya. Hadis ini adalah tesis utama seluruh misinya.
Namun, di balik narasi tentang akhlak sebagai budi pekerti, ada kedalaman yang lebih hakiki. Akhlak bukan semata soal norma sosial, tapi hasil dari dialektika batin manusia dengan dirinya sendiri. Ketika Nabi ditanya oleh Wabishah bin Ma’bad tentang kebaikan, beliau menjawab: "Tanyailah hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang tenteram terhadap jiwa, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati."
Baca juga: Lampu yang Menyinari Umat: Jejak Aisyah dalam Ilmu dan Akhlak
Dalam "Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat", Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa akhlak adalah cermin dari fitrah. Dan fitrah, menurut Al-Qur’an, adalah bawaan asli manusia: kecenderungan kepada kebenaran, kepada yang baik.
Dalam surat Ar-Rum ayat 30 disebutkan, "Itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu." Artinya, menjadi baik bukanlah pilihan yang asing. Ia adalah gerak alami manusia sejak lahir.
Dibentuk, Bukan Dibelokkan