5 Pesantren Khusus Tangani Santri dengan Gangguan Mental
Muhajirin
Senin, 11 Oktober 2021 - 10:57 WIB
Pondok Pesantren Istighfar Semarang (foto: langit7.id/istock)
Pesantren sudah sangat lekat dengan kehidupan masyarakat muslim di Indonesia. Ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka, pesantren sudah tersebar ke seluruh pelosok nusantara. Mulai daerah pesisir sampai pedalaman.
Pesantren memang identik dengan lembaga pendidikan untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Namun seiring perkembangan zaman, banyak pesantren didirikan untuk menangani masalah sosial tertentu dengan pendekatan islami. Salah satunya pesantren yang didirikan khusus untuk orang gangguan mental.
Berikut ini pesantren khusus menangani orang-orang yang mengalami gangguan mental:
1. Ponpes Darut Tasbih, Tangerang
Pondok Pesantren Darut Tasbih berada di Desa Gelam Jaya, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten. Pesantren ini memang khusus menerima orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Namun kegiatan di pesantren ini tidak berbeda dengan pesantren pada umumnya. Keseharian santri diisi dengan ibadah, mengaji, mendengarkan tausiyah, dan melakukan ruqyah.
Pesantren ini diasuh oleh KH Rafiudin. Ia menempatkan posisi orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu di tempat yang mulia. Ia tak menganggap mereka pasien, tapi sebagai santri.
KH Rafiudin sudah menangani orang yang mengalami gangguan kejiwaan sejak 30-an tahun lalu. Awalnya ia membawa pulang sejumlah orang dengan gangguan kejiwaan dari pinggir jalan ke kontrakannya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Pesantren memang identik dengan lembaga pendidikan untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Namun seiring perkembangan zaman, banyak pesantren didirikan untuk menangani masalah sosial tertentu dengan pendekatan islami. Salah satunya pesantren yang didirikan khusus untuk orang gangguan mental.
Berikut ini pesantren khusus menangani orang-orang yang mengalami gangguan mental:
1. Ponpes Darut Tasbih, Tangerang
Pondok Pesantren Darut Tasbih berada di Desa Gelam Jaya, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten. Pesantren ini memang khusus menerima orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Namun kegiatan di pesantren ini tidak berbeda dengan pesantren pada umumnya. Keseharian santri diisi dengan ibadah, mengaji, mendengarkan tausiyah, dan melakukan ruqyah.
Pesantren ini diasuh oleh KH Rafiudin. Ia menempatkan posisi orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu di tempat yang mulia. Ia tak menganggap mereka pasien, tapi sebagai santri.
KH Rafiudin sudah menangani orang yang mengalami gangguan kejiwaan sejak 30-an tahun lalu. Awalnya ia membawa pulang sejumlah orang dengan gangguan kejiwaan dari pinggir jalan ke kontrakannya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.