Ramadhan Bercahaya
Bhima Yudhistira: Indonesia Emas Terancam Jadi 'Indonesia Cemas' Akibat Ketimpangan Struktural
Esti setiyowati
Senin, 02 Maret 2026 - 06:00 WIB
Bhima Yudhistira: Indonesia Emas Terancam Jadi Indonesia Cemas Akibat Ketimpangan Struktural. Foto: tangkapan layar.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara, memberikan peringatan keras terkait arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilai kian menjauh dari realitas rakyat kecil.
Dalam tausiyah ekonomi di Masjid Kampus UGM, Ahad (1/3/2026), Bhima menyebut bahwa ambisi "Indonesia Emas 2045" mustahil tercapai jika pemerintah masih menjalankan kebijakan yang "ugal-ugalan" dan hanya menguntungkan segelintir elite.
Bhima menyoroti program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki anggaran fantastis sebesar Rp335 triliun. Namun, di lapangan, program ini justru memukul para pedagang kecil.
Baca juga: Ramadhan Public Lecture: Menelisik Ancaman Arus Balik Kolonialisme di Timur Tengah
Ia mengungkapkan temuan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) cenderung memotong tujuh hingga delapan rantai pasok dengan membeli telur langsung dari peternak besar, bukan dari warung atau pasar tradisional.
"BGN bahkan meminta harga di bawah Rp1.500 per butir. Ini mematikan ekosistem UMKM kita. Programnya besar, anggarannya besar, tapi masih mengawang-awang dan tidak menjejak ke tanah," ujar Bhima di hadapan jamaah Masjid Kampus UGM.
Kritik serupa ia arahkan pada kebijakan impor 105.000 mobil pickup 4x4 dari India. Menurutnya, industri otomotif dalam negeri sangat mampu memenuhi kebutuhan tersebut, dan spesifikasi penggerak empat roda (4x4) dianggap belum mendesak bagi petani sayur di daerah.
Dalam tausiyah ekonomi di Masjid Kampus UGM, Ahad (1/3/2026), Bhima menyebut bahwa ambisi "Indonesia Emas 2045" mustahil tercapai jika pemerintah masih menjalankan kebijakan yang "ugal-ugalan" dan hanya menguntungkan segelintir elite.
Bhima menyoroti program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki anggaran fantastis sebesar Rp335 triliun. Namun, di lapangan, program ini justru memukul para pedagang kecil.
Baca juga: Ramadhan Public Lecture: Menelisik Ancaman Arus Balik Kolonialisme di Timur Tengah
Ia mengungkapkan temuan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) cenderung memotong tujuh hingga delapan rantai pasok dengan membeli telur langsung dari peternak besar, bukan dari warung atau pasar tradisional.
"BGN bahkan meminta harga di bawah Rp1.500 per butir. Ini mematikan ekosistem UMKM kita. Programnya besar, anggarannya besar, tapi masih mengawang-awang dan tidak menjejak ke tanah," ujar Bhima di hadapan jamaah Masjid Kampus UGM.
Kritik serupa ia arahkan pada kebijakan impor 105.000 mobil pickup 4x4 dari India. Menurutnya, industri otomotif dalam negeri sangat mampu memenuhi kebutuhan tersebut, dan spesifikasi penggerak empat roda (4x4) dianggap belum mendesak bagi petani sayur di daerah.