home edukasi & pesantren

Pesantren Raudhatul Hasanah Subang, The Real Pesantren Rock and Roll

Kamis, 18 November 2021 - 13:54 WIB
Santri Ponpes Raudhatul Hasanah Subang banyak yang bertato sebab mayoritas adalah anak jalanan dan preman (foto: langit7.id/Muhajirin)
Bertato tapi ngaji. Pemandangan tersebut lazim terlihat jika berkunjung ke Pesantren Raudhatul Hasanah, Subang, Jawa Barat. Konsep dasar pesantren ini memang memeluk hati orang-orang termarjinalkan di tengah masyarakat, seperti anak-anak jalanan hingga preman.

Istilah yang pertama kali terlintas di benak saat melihat mereka adalah santri rock and roll. Sebuah pemandangan yang menghiasi layar kaca, namun ternyata ada di kehidupan nyata. Mayoritas santri memang berasal dari preman yang taubat. Maka, tak perlu terkejut jika melihat ada santri yang bertato dengan telinga berlobang bekas anting.

Kilas balik para santri ini tidak terlepas dari peran Kiai Haji Muhammad Abdul Mu’min atau akrab disapa Kiai Maung. Di Subang, sosok Kiai Maung sudah terkenal di kalangan preman maupun anak-anak jalanan. Ia tumbuh di lingkungan keras. Berkawan dengan preman sudah menjadi asam garam dalam kehidupannya.

Pendekatan dakwah Kiai Maung membuat para warga sekitar begitu segan, sebab memberikan keteladanan dalam mendidik anak jalanan yang dianggap rendah masyarakat. Bahkan, Kiai Maung kerap mengumpulkan semua santri. Ia menyuapi mereka, lalu meminta maaf ke para santri. Sederhana tapi sangat bermakna bagi mereka. Di sisi lain, ia memperlakukan para santri seperti anak sendiri, juga kawan ngobrol dan bahkan teman ngopi.

“Meminta maaf itu sangat susah di negara ini. Banyak orang hanya merasa benar,” kata Kiai Maung saat berbincang dengan LANGIT7.ID di Pesantren Raudhatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (17/11/2021).

Pendekatan keteladanan itu membuat karakter santri sangat kuat. Jika berbicara soal adab, santri-santri Raudhatul Hasanah patut diacungi jempol. Mereka tidak berani meninggikan suara di hadapan Kiai maung. Apalagi lewat di depan beliau tanpa permisi.

Seperti pemandangan hari ini. Hujan sangat deras. Seorang santri tengah duduk di ujung bangunan masjid, menunggu hujan reda. Namun, saat mendengar panggilan Kiai maung, ia berlari tanpa menghiraukan hujan. Saat sampai, ia menunduk, dan memasang badan siap menerima perintah. “Saya mendidik mereka dengan tegas, disiplin, tapi pakai hati,” ucapnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pondok pesantren pesantren unik ponpes raudhatul hasanah
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya