NU dan Muhammadiyah, Ibarat Sepasang Sandal Jepit yang Tak Terpisahkan
Muhajirin
Sabtu, 18 Desember 2021 - 16:44 WIB
Ilustrasi (foto: nu.or.id)
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan dua ormas Islam terbesar di Tanah Air. Dua organisasi ini sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Wajar jika kontribusi keduanya dalam membangun bangsa tak perlu dipertanyakan lagi.
Dalam buku "Berangkat dari Pesantren" karya KH Saifuddin Zuhri dipaparkan ragam kisah keterkaitan dan keterikatan NU dan Muhammadiyah. Dalam konteks kenegaraan, NU dan Muhammadiyah, kata KH. Hasyim Muzadi, ibarat sepasang sandal jepit. Jika ingin memakai semua, tidak ada masalah. Kalau tak ingin dipakai, pun tidak masalah.
Akan tetapi, tidak bisa hanya dipakai sisi kanan saja, sisi kiri dibiarkan. Demikian pula sebaliknya. Jika begitu, pasti bakal dianggap tidak waras.
NU dan Muhammadiyah memiliki karakter yang berbeda. Mulai dari sistem tata kelola organisasi, corak fikih, dan sisi-sisi lainnya. Orang Muhammadiyah memiliki budaya iuran jika ada kebutuhan organisasi. Mereka suka berdonasi. Sementara orang NU iurannya lebih sering bukan berupa rupiah.
Misalnya saat pembangunan pondok pesantren, warga NU tidak menyumbang rupiah, tapi material seperti semen, pasir, batu bata, logistik, hingga tenaga.
Di Muhammadiyah, mencari ulama yang mampu mendirikan pondok pesantren, jarang ditemukan. Meski di tubuh Muhammadiyah sudah pasti banyak orang alim. Tapi berkaitan dengan klinik, rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah sangat banyak.
Sementara warga NU ahli membangun pondok pesantren. Mereka bisa merintis TPQ, lalu berkembang menjadi Madrasah Diniyah, lantas tumbuh menjadi pondok pesantren. Namun saat diminta bikin klinik, mereka kebingungan.
Dalam buku "Berangkat dari Pesantren" karya KH Saifuddin Zuhri dipaparkan ragam kisah keterkaitan dan keterikatan NU dan Muhammadiyah. Dalam konteks kenegaraan, NU dan Muhammadiyah, kata KH. Hasyim Muzadi, ibarat sepasang sandal jepit. Jika ingin memakai semua, tidak ada masalah. Kalau tak ingin dipakai, pun tidak masalah.
Akan tetapi, tidak bisa hanya dipakai sisi kanan saja, sisi kiri dibiarkan. Demikian pula sebaliknya. Jika begitu, pasti bakal dianggap tidak waras.
NU dan Muhammadiyah memiliki karakter yang berbeda. Mulai dari sistem tata kelola organisasi, corak fikih, dan sisi-sisi lainnya. Orang Muhammadiyah memiliki budaya iuran jika ada kebutuhan organisasi. Mereka suka berdonasi. Sementara orang NU iurannya lebih sering bukan berupa rupiah.
Misalnya saat pembangunan pondok pesantren, warga NU tidak menyumbang rupiah, tapi material seperti semen, pasir, batu bata, logistik, hingga tenaga.
Di Muhammadiyah, mencari ulama yang mampu mendirikan pondok pesantren, jarang ditemukan. Meski di tubuh Muhammadiyah sudah pasti banyak orang alim. Tapi berkaitan dengan klinik, rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah sangat banyak.
Sementara warga NU ahli membangun pondok pesantren. Mereka bisa merintis TPQ, lalu berkembang menjadi Madrasah Diniyah, lantas tumbuh menjadi pondok pesantren. Namun saat diminta bikin klinik, mereka kebingungan.