LANGIT7.ID - Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan dua ormas Islam terbesar di Tanah Air. Dua organisasi ini sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Wajar jika kontribusi keduanya dalam membangun bangsa tak perlu dipertanyakan lagi.
Dalam buku "Berangkat dari Pesantren" karya KH Saifuddin Zuhri dipaparkan ragam kisah keterkaitan dan keterikatan NU dan Muhammadiyah. Dalam konteks kenegaraan, NU dan Muhammadiyah, kata KH. Hasyim Muzadi, ibarat sepasang sandal jepit. Jika ingin memakai semua, tidak ada masalah. Kalau tak ingin dipakai, pun tidak masalah.
Akan tetapi, tidak bisa hanya dipakai sisi kanan saja, sisi kiri dibiarkan. Demikian pula sebaliknya. Jika begitu, pasti bakal dianggap tidak waras.
NU dan Muhammadiyah memiliki karakter yang berbeda. Mulai dari sistem tata kelola organisasi, corak fikih, dan sisi-sisi lainnya. Orang Muhammadiyah memiliki budaya iuran jika ada kebutuhan organisasi. Mereka suka berdonasi. Sementara orang NU iurannya lebih sering bukan berupa rupiah.
Misalnya saat pembangunan pondok pesantren, warga NU tidak menyumbang rupiah, tapi material seperti semen, pasir, batu bata, logistik, hingga tenaga.
Di Muhammadiyah, mencari ulama yang mampu mendirikan pondok pesantren, jarang ditemukan. Meski di tubuh Muhammadiyah sudah pasti banyak orang alim. Tapi berkaitan dengan klinik, rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah sangat banyak.
Sementara warga NU ahli membangun pondok pesantren. Mereka bisa merintis TPQ, lalu berkembang menjadi Madrasah Diniyah, lantas tumbuh menjadi pondok pesantren. Namun saat diminta bikin klinik, mereka kebingungan.
Orang Muhammadiyah rata-rata tidak merokok, kecuali KH. A.R. Fahruddin dan Prof Malik Fajar. Sehingga, pernah suatu ketika KH. Hasyim Muzadi (Ketum PBNU yang tidak kebal kebul) menjumpai Prof Malik di smoking area bandara. "Lho, Muhammadiyah kok ngerokok!" gojlok Kiai Hasyim.
"Saya itu semua ikut Muhammadiyah, kecuali soal rokok. Dalam pertembakauan saya izin jadi orang NU saja deh," timpal Prof Malik.
Keduanya terbahak. Soal gojlokan antara pemimpin Muhammadiyah dan NU, ada pula kisah antara KH. Raden Hadjid dan KH. A. Wahab Chasbullah, saat penentuan kabinet Hatta pada 1948. Jika kebiasaan orang Muhammadiyah tidak talafudz niat, maka pada kesempatan itu mereka ingin agar menteri dari Masyumi yang duduk dalam Kabinet Hatta melafalkan niat izalatul munkarat (menghilangkan kemungkaran).
“Kalau begitu, niatnya harus diucapkan," tukas Kiai Hadjid, pimpinan Muhammadiyah.
Mbah Wahab spontan menjawab dengan meminjam gaya orang Muhammadiyah yang khas, “Mana dalil al-Qur’an atau Hadits mengenai
talaffudz bin niyyat (mengucapkan niat)?”
Mendengar sahutan Mbah Wahab, sontak hadirin tertawa riuh karena dua tokoh ini mewakili dua aliran dalam Islam tentang harus atau tidaknya mengucapkan lafadz niat (dengan mengucapkan ushalli) saat shalat.
Beda Muktamar Muhammadiyah dan NU Rektor INAIFAS Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, mengatakan, memang karakteristik tempat kelahiran kedua ormas ini juga turut andil dalam membentuk perilaku individu dan karakteristik organisasinya. Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, dengan segala ewuh-pakewuh dan tradisi ke-priayi-annya, sedangkan NU lahir di Surabaya yang lebih multikultural, blokosutho, dan egaliter.
Hal ini terlihat pada Muktamar 2015, sebuah koran nasional menurunkan headline, “Laporan dari Muktamar: Muhammadiyah Teduh, NU Gaduh”. Ini karena dalam pemilihan ketua umum, mekanisme di Muhammadiyah tampak lebih halus ala priyayi, mirip rapat keluarga.
Sedangkan di NU cenderung egaliter, dan dalam tataran praktis lebih ramai ala bahstul masa-il, dan mirip musyawarah. Di Muhammadiyah, jadwal sidang bisa ditutup lebih awal, dan acara berakhir lebih cepat. Di NU, selain molor dimulai, juga berakhir dengan alot dan jadwal bisa mundur.
Tak hanya itu, dalam realitas lain, Muktamar NU lebih merakyat dibanding dengan Muktamar Muhammadiyah. Abu Hayyun al-Jugjawy alias Mas Iqbal Aji Daryono, esais berlatar belakang Muhammadiyah, menuturkan pengalamannya mencermati riuh muktamar 2 ormas ini.
Di Muktamar Muhammadiyah, hanya sedikit penjual pernak pernik organisasi seperti kaos, gantungan kunci, maupun poster. Juga nyaris tidak dijumpai rombongan liar. Di dalam Muktamar NU, sebaliknya. Rombongan liar lebih banyak dibandingkan dengan pengurus struktural yang datang. Kondisinya bukan hanya lebih merakyat, melainkan juga heboh.
"Jangankan jualan poster ulama dan cinderamata NU, tukang bekam, penjual obat kuat, sampai pengecer mainan anak pun ada. Benar-benar meriah. Bukankah ini yang kita jumpai di sekitar arena Muktamar NU?" kata Gus Rijal melalui akun facebook-nya, dikutip Sabtu (18/12/2021).
(jqf)